Selasa, 05 April 2011

Puisi “POHON RINDANG” | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

POHON RINDANG

saat bersepeda di pagi hari, selalu kulewati pohon rindang itu. begitu sampai mendekat di hadapannya, aku menoleh ke arah kiri: tersenyum. pohon rindang pun mengangguk dan berucap selamat pagi. kami lantas sahabat. bertahun-tahun. selalu bertegur sapa di pagi hari. gerimis pagi pun kuterobos, agar bisa terus bersepeda dan kembali menyapa pohon rindang.

hari ini, pagi cerah. matahari bersungging senyum di ufuk timur. tapi dari kejauhan kulihat kerumunan orang. melingkar di seputar pohon rindang. tiba-tiba menggelegak tanya dalam diri: ada apa di seputar pohon rindang? sebab, tak ada aura bahagia merona. sehimpunan orang menatap pilu tiada tara, ke arah pohon rindang.

seorang penarik sado berkata: “sejak malam dirobek fajar, pohon rindang meneteskan airmata. kami tak paham. mengapa ia menangis pilu.”

seorangtua dengan jenggot memutih, maju ke hadapanku, dan lalu berkata: “wahai si penunggang sepeda, sudilah kiranya engkau lebih mendekat ke pohon rindang. sebab kepadamu pohon rindang senantiasa berucap selamat pagi.”

aku mengangguk dan bersama orangtua itu mendekat ke pohon rindang. mendekat. terus mendekat. tiba-tiba pohon rindang berkata dengan ucap yang bergetar: “oleh soekarno-hatta, aku diberi tugas mengayomi semua kalian. sudah pula lebih setengah abad, kalian berteduh di bawahku dari sengatan panas kehidupan, dari terpaan badai penderitaan. di bawah rindang naunganku, kalian menjalin gotong royong persaudaraan. tapi mengapa kini, sebagian dari tokoh yang kalian panggil pemimpin tega mengatur siasat: hendak menumbang-robohkan aku? jika sebentar lagi para pemimpin kalian sukses menumbang-robohkan aku, maka kalian takkan punya lagi wilayah bersama menjalin persaudaraan. kalian akan bertarung melawan diri kalian sendiri. wahai kalian yang mendengar seruanku, cegah segenap kesintingan yang bergelayut dalam benak pemimpin kalian.”

suasana lalu berubah sunyi. begitu senyap. tak satu pun dari kami berkata-kata. hanya sekumpulan burung elang di ketinggian gunung nun jauh di sana saling bersahutan melantungkan senandung lagu: ketuhanan, kemanusiaan, persaudaraan, permusyawaratan, keadilan.

kami semua terdiam. hingga kemudian hujan lebat mengguyur, tertumpah dari langit. kami masih tetap terdim. terdiam. terdiam ……. terus terdiam.

jakarta, awal januari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar