Senin, 24 Februari 2014
Senin, 10 Februari 2014
Puisi "CATATAN TENTANG AIRMATA" | Karya Anwari WMK
CATATAN TENTANG AIRMATA
hari ini kutemukan catatan tentang airmata rindu terselip di antara barisan buku-buku di perpustakaan yang tembok-temboknya bercat semburat biru beludru
pada catatan itu tergores aksara purba berkisah tentang takdir suatu bangsa pada suatu masa, dalam cengkraman musim yang tak pasti
bumi pada bangsa itu adalah hamparan hijau untuk tumbuhnya puspa ragam pohon, dalam lambungnya tersimpan mineral, karbon, batu-batu permata
tapi, bangsa itu kerdil oleh bonsainya cita-cita kaum pemimpin yang hanya lihai menggelembungkan kekayaan harta benda untuk diri sendiri, untuk pengagungan diri sendiri
terus menatap catatan tentang airmata rindu, pelan perlahan batinku menggelegak, hingga lalu menggelegar erupsi jiwa, dan aku tak sanggup lagi memasung teriak, tak kuasa menahan ledakan kata-kata: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."
kini, perpustakaan berbiru beludru terguncang-guncang, terhuyung-huyung, segala isinya berserakan, serupa hantaman lindu.
dan anehnya, setiap orang dalam perpustakaan itu pun meneriakkan ucap kata yang sama: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."
sejenak kemudian, mereka menggapai jalanan besar ditingkahi ramai lalu lintas, dan mereka pun masih terus berteriak: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."
(Februari 2014)
ANWARI WMK
Minggu, 26 Januari 2014
Puisi "LINTANG KEMUKUS" | Karya Anwari WMK
LINTANG KEMUKUS
Kala menatap Lintang Kemukus
di langit malam
pengelana itu selalu
berkaca-kaca matanya
Ia senantiasa terkenang
bulu-bulu lembut
berbaris-baris indah
di kening seorang gadis
Sudah entah berapa bait
sajak-sajak cinta ia tulis
karna tak kuasa melupa
bulu-bulu lembut di kening itu
Pesona bulu lembut di kening
pada Lintang Kemukus
adalah lipatan-lipatan memori
membakar abadi nyala api rindu
sejak bertahun-tahun lalu
(Januari 2014)
ANWARI WMK
Puisi "FILSAFAT" | Karya Anwari WMK
FILSAFAT
Sambil memegang Al Qur'an
lelaki tua itu mengajari
seorang bocah
hal lhwal filsafat
apa itu filsafat
dan bagaimana filsafat
Malam-malam senantiasa luruh
bersama hawa dingin pegunungan
tapi filsafat terus berkobar
serupa panas nyala api
Lelaki tua itu telah lama wafat
dan bocah itu kini
menua bersama filsafat
ia menangis bersama filsafat
ia sakit bersama filsafat
ia merintih perih bersama filsafat
ia berpuisi bersama filsafat
filsafat bermahkota cahaya
Cahaya Al Qur'an
(Januari 2014)
Anwari WMK
Rabu, 22 Januari 2014
Puisi "BULAN MENATAP BANJIR" | Karya Anwari WMK
BULAN MENATAP BANJIR
kutengadahkan wajah ke langit timur
bulan berselubung awan
bercahaya kelabu kelam
saksi untuk ribuan jiwa
terombang senandung takdir
genangan-genangan banjir
oh rembulan. lihatlah kami
tiada jedah beriang gembira
menista bumi, saudaramu
kami kibarkan panji kemenangan
bersulang segala nyanyian
atas nama pembangunan
lalu bumi meradang
menumpahkan segala peluh dirinya
keringatnya mengalir terjang
tubir-tubir sungai terkoyak
jalanan-jalanan berbilur luka
jembatan-jembatan patah punggungnya
manusia masih tertawa. masih
walau bersama jiwa terkulai
tertusuk lipatan-lipatan sesal
oh rembulan
jika engkau kini berpuisi ihwal
ambisi loba berjubah modernisasi
lantas tergelar opera banjir
aku hanya mampu menyimaknya
dengan batin tertunduk malu
(Januari 2014)
ANWARI WMK
