Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2014

Puisi "TERMINAL KENAIFAN CINTA" | Karya Anwari WMK

TERMINAL KENAIFAN CINTA

Kini berkawan pelangi
Aku berjalan tertatih
Menjauh meninggalkan terminal
Terminal kenaifan cinta

Pada pucuk gunung
Seberkas cahaya bertahta
Di atas batu hitam
Cahaya itu bersuara:

“Jangan pernah menyamakan
Cinta Allah
Dengan cinta mahluk-mahluk
Jangan pernah. Jangan”

“Bila cinta Allah datang
Di keharibaan jiwa manusia
Maka tersingkap segala tirai
Terungkap tabir, rahasia kehidupan”

Damai bersama suara-suara cahaya
Kini aku semakin menjauh
Dari terminal kehidupan
Terminal kenaifan cinta

(Desember 2013)


ANWARI WMK

Minggu, 21 April 2013

Puisi "KALAM" | Karya Anwari WMK

KALAM

Mungkin
engkau tak pernah tahu
apa gerangan makna
bulu-bulu lembut di keningmu
terhadap kalam-kalamku

Kini kukatakan padamu
dengarlah. simaklah

Pada sela-sela bulu lembut
di keningmu itu
sungguh telah sejak lama
tercecer bait-bait sajak cinta

Bait-bait yang menghiba iba
agar sepenuhnya abadi
bersemayam
di sela-sela bulu lembut
pada keningmu

Mungkin
engkau tak pernah tahu

Bait-bait itu tersulam
bersama senandung sukma
di keheningan jiwa malam
kala batin tergetar pilu
menggenggam kalam

ANWARI WMK

Sabtu, 24 November 2012

Puisi "TOKO" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

TOKO

Para pemilik toko paham

Orang-orang datang dan pergi
Berkasak-kusuk
Mengais jati diri

Saat jiwa hampa

Gunung hutan bukan lagi hamparan
Untuk jiwa direbahkan
Di toko-toko, tersulut bahagia
Orang-orang datang dan pergi

"Kita ini pandir," kata pemilik toko

Di hadapan karyawan berwajah lugu
"Tapi tampak wujudkan
Kita ini cerdik cendekia
Mampu menggenapi hasrat
Pencarian jati diri
Kita kuras lembar-lembar duit
Agar keluar berloncatan
Dari kantong baju dan celana
Orang-orang datang dan pergi"

Toko-toko pun serupa oase

Tempat berburu pernak-pernik
Jati diri
Saat bulan pada kalender
Bergeser dua kali
Orang-orang sibuk
Mengosongkan ruangan
Membuang segenap benda
Semula disangka bertuah
Membentuk jati diri

Ke toko-toko

Mereka kembali datang
Kembali berburu
Jati diri

(2012)

Puisi "SUNGAI PUISI" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

SUNGAI PUISI

Bila bajuku lusuh
kotor berlumur lumpur
malu aku menghadap
ke hadiratNya.

Maka, biarlah
baju ini
kubasuh terlebih dahulu
di sungai-sungai puisi,
sampai sepenuhnya bersih,
hingga aku mampu tersenyum
saat menjumpaiNya.

Wahai Raja Diraja Kehidupan
kini aku mulai menjejak menapak
perjalanan panjang
mendekati diriMu
berasal mula dari
sungai-sungai puisi itu

(2012)

Puisi "BUNGA TEMBAKAU ITU" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

BUNGA TEMBAKAU ITU

Tuan Putri,

Hari ini kutatap kembali
Pohon-pohon tembakau
Lalu mengenang celotehmu
Bertahun lampau
Tentang bunga-bunga tembakau
Musti sontak dipapras pangkas
Kala tumbuh bertunas

Tuan Putri,

Aku masih ingat
Tutur ceritamu
Tragedi pengorbanan
Bunga tembakau
Agar daun-daun tumbuh
Subur menuai harapan

Tuan Putri,

Hari ini kembali kuhayati
Pengorbanan bunga tembakau itu
Serupa dirimu yang menyintaiku
Tapi tak pernah memiliki diriku

Tuan Putri,

Di hamparan selembar
Hijau daun tembakau
Ada tetesan airmata
Jatuh pelan perlahan
Bersama tarian angin
Airmataku

(Glagahwero, akhir Agustus 2012)

Puisi "DOMBA SRIGALA" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

DOMBA SRIGALA

Di negeri nan elok
Terserak dua kerat takdir
Kawanan domba merumput
Di segala arah
Sehimpunan srigala
Bertahta di pucuk gunung

Angin teramat paham
Tercacah segenap muslihat
Di pucuk gunung itu
Agar kawanan domba
Abadi dalam genggam kuasa
Sehimpunan srigala

Dari siang ke malam
Hanya gema pesta pora
Membahana di pucuk gunung
Kaum srigala saling bertukar tawa
Membanggakan keculasan

Saat domba-domba tewas
Tercekik rantai kemiskinan
Kian membahana
Tawa kemenangan kaum srigala

Barung-burung pun lantas bersaksi:
Kaum srigala itu
Tak pernah menatap langit
Tak

(Glagahwero, 2012)
 

Puisi "WAHAI ENGKAU" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

WAHAI ENGKAU

Padang rumput itu
terus menghijau,
sedap dipandang mata.
Seperti rinduku kepadaMu
yang tak pernah kerontang
dalam semesta nikmat
hamparan jiwa.

Wahai Engkau,
kuabaikan segenap takrif
terus berlari kencang
hingga dekat,
dekat dan teramat dekat
dengan hadiratMu.

Lalu,
pada kontur demi kontur
tanah nan rapuh
yang kutinggalkan
tumbuh pohon-pohon
kebahagiaan
berbuah hikmah
ilmu pengetahuan.

[Puncak, 25 Agustus 2012]

Puisi "MATAHARI" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

MATAHARI

Saat matahari kembali bercahaya
Kulantunkan dzikir dan doa
Yang gemanya melampaui
Segenap suara

Batu, pohon dan butiran pasir
Turut lebur kini
Ke tengah pusaran
Dzikir dan doa

Bila matahari kelak
Redup kehilangan cahaya
Takkan ada lagi momen
Bersenandung doa

Saat matahari kembali bercahaya
Kulantunkan dzikir dan doa
Semampang ada kesempatan
Sebelum segalanya gelap
Dalam nyeri perih
Gulita

(2012)

Puisi "HATIMU AIRMATAKU" | Karya Anwari WMK

Puisi 
Anwari WMK

HATIMU AIRMATAKU

Telah lama kutitipkan airmataku di hatimu
Airmataku terus bertahta di hatimu
Hanya airmata itu yang mampu kuberikan padamu
Hingga hatimu tak pernah kemarau terbasahi airmataku

Biarlah hatimu adalah airmataku
Biarlah airmataku adalah hatimu

Bila kelak langit runtuh
Dan segalanya fana dalam kepunahan
Hanya hati dan airmata itu
Abadi tanpa cela

Hatimu dan airmataku
Selamanya . . . . . .

(2012)

Puisi "IKAN DAN PANTAI" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

IKAN DAN PANTAI

Mari nak, bergegas ke pantai
Ikan-ikan menunggu kedatangan kita

Mari nak, segera ke pantai
Ikan-ikan ikhlas kita tangkap

Ikan-ikan paham, nak
Kitalah kaum miskin
Tak henti bermunajat
Hingga datang
Bulan lebih mulia
Dari seribu bulan

Mari nak, bergegas ke pantai
Ikan-ikan menanti kedatangan kita

(Akhir Ramadhan 2012) 


Puisi "HERLIN SUZANA" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

HERLIN SUZANA

belum selesai berkisah tentang masa lalunya yang pedih perih, lelaki tua itu menunjukkan sehelai sapu tangan lama.

"bacalah," katanya. "ada tulisan nama di situ."

kubuka lipatan-lipatan sapu tangan, lalu menemukan bordiran nama, tertulis: Herlin Suzana.

"siapa perempuan ini, bapak tua?" tanyaku.

bapak tua itu menjawab: "kami dipertemukan Tuhan tatkala usia masih muda belia. dia gadis semolek bidadari. dia menyintaiku, dan aku menyintainya. tapi kami tak pernah saling memiliki, tak pernah saling dimiliki. serupa kisah pilu Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya."

lantas, kutatap wajah bapak tua itu, matanya berkaca-kaca. tersembul selaksa jalinan kisah masa lampau penuh nestapa pada mata yang berkaca-kaca itu. sejurus kemudian, bapak tua itu meneteskan airmata. airmata yang teramat purba.

ooh nama itu, Herlin Suzana, memahat kaldera airmata untuk seorang lelaki hingga umur merambat tua.

kembali bapak tua itu berkata: "wahai pujangga, wakafkan waktu dan umurmu menulis sajak dan puisi tentang kasih tak sampai."

aku menganggukkan kepala, dan tak terasa aku pun turut meneteskan airmata.

(2012)

Puisi "PELUKAN WAKTU" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

PELUKAN WAKTU

puisi-puisi itu
abadi dalam pelukan waktu
sementara aku,
letih bergumul di ketiak waktu

mungkin ini saat
membiarkan puisi-puisi
seutuhnya paripurna
damai bersama
pelukan waktu

kinilah saat
kulengkapi perjalanan
menuai lintasan demi lintasan
menggapai aras
tak meruang
tak mewaktu

ingin kuberucap
selamat tinggal
kepada puisi-puisi itu
tapi lidahku kelu
kehilangan alfabeta
kata-kata

(Idul Fitri 2012)

Puisi "TELAGA RINDU" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

TELAGA RINDU

hingga matahari
melorot ke ufuk Barat
ia masih berdiri
di tubir telaga sunyi
mempuisikan segenap rindu
berkecamuk di hatinya

ia terpelanting
keluar cangkang waktu
memburu energi semesta
demi mempuisikan
segala tunas rindu

tiba-tiba
air telaga menggigil
terbui dalam beku
tak kuasa mencerna
pedih pilu kecamuk jiwa
tahun demi tahun
berdarah
tertusuk tersayat
belati rindu

(Akhir Ramadhan 2012)

Puisi "LACI KECIL" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

LACI KECIL

Laci kecil
tersimpan rapi
di dalam hati
seorang lelaki.

Pada laci kecil itu
termaktub rahasia
keabadian cinta.

Menjelang Idul Fitri,
lelaki itu kembali
melakukan ziarah jiwa:
menengok ulang laci kecil itu
dan lalu membukanya,
bersama runtuh dan tetesan
airmata rindu.

Ooh cinta,
abadilah
abadilah

(Akhir Ramadhan 2012)

Puisi "LAUT MERONA WARNA" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

LAUT MERONA WARNA

Pada laut puspa merona warna
Berulang kali kurebahkan jiwa
Agar damai mengenang Dia
Agar tenteram mengingat Dia

Balada sukma mencencang jauh
Terseok hilang ucap kata
Jalanan berliku menukik menanjak
Jiwa koyak tertusuk resah
Alfabeta kehidupan terkepung muskil
Musti kucincang sekerat demi sekerat

Setelah itu,
Kukembali menggapai
Laut puspa merona warna
Dan bersama tarian galaksi
Kembali kurebahnya jiwa
Agar syahdu menyebut namaNya

Ooh Kekasih Maha Kekasih
Kini kukembali datang ke lautMu
Meski hanya bersama sekuntum puisi
Walau hanya berkawan seikat puisi

(Ramadhan 2012)

Puisi "LIYAN" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

LIYAN

Jumlah mereka ribuan
Dibantai serupa binatang
Darah airmata tumpah
Membentuk kubangan pedih
Hingga Bumi tak kuasa
Menahan rintih perih

Hanya karena mereka Muslim
Hanya karena secuil liyan

Wahai para penyair kehidupan
Jika engkau kini hadir
Akankah tampak keindahan puisi
Bukankah darah dan airmata
Telah merenda segala puisi
Menjadi puak sejuta duka
Di Burma sana

(Ramadhan 2012)
 

Puisi "KISAH RAJAWALI" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

KISAH RAJAWALI

Sebatang pohon salam di pinggiran gumuk
Terus mengucapkan kisah tentang rajawali

"Tahukah engkau,"
Kata pohon salam
"Rajawali tak pernah terbang untuk dirinya
Tak pernah menatap pandang untuk dirinya
Ia mengajar nanusia terbang melawan awam
Menatap kehidupan dengan kebeningan
Tapi manusia gagal menangkap isyarat
Belum jua mau menatap setajam mata rajawali
Dan kerdil menatap awan hitam"

Semula lelap di bawah rindang pohon salam
Seorang anak muda tersentak peranjat
Bersama jantung berdebar, ia cerna
Kata demi kata terucap pohon salam

Usai mendengar lafal kisah rajawali
Bergegas ia pulang, ke rumah kakeknya
Ia lalu menyingkap kitab-kitab
Hingga sukmanya tenggelam
Di lautan kitab-kitab
Sementara bunga-bunga di halaman
Bergoyang-goyang tertiup
Angin Ramadhan

(Ramadhan 2012) 

Puisi "BUTIRAN PASIR" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

BUTIRAN PASIR

Tertiup angin,
butir-butiran pasir berterbangan
dalam pusaran takdir
alam semesta.

Aku hanyalah satu butiran pasir.
Engkau hanyalah satu butiran pasir.
Aku dan engkau hanyalah butiran pasir,
tapi tiada lelah memancang keinginan
menjadi segumpal planet
atau bahkan
menjadi bintang bercahaya benderang.

Maka, aku dan engkau bukan sekadar
butiran pasir.

(Ramadhan 2012)

Puisi "POHON" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

POHON

Telah kutanam puspa ragam pohon
Dalam taman luas terhampar di hatiku
Tapi, satu per satu, pohon itu mati
Bertumbangan oleh sebab tak kumengerti

Hingga suatu zaman kala angin semilir dari timur
Engkau tanam sebatang pohon pucat pasi
Dan aku berkata kepadamu: percuma!
Engkau hanya tersenyum sambil terus menanam
Bertahun kemudian, berdekade kemudian
Pohon itu tumbuh tanpa pucat pasi
Daunnya warna-warni meronakan keindahan surga

Saat Ramadhan tiba, kutengok kembali pohon itu
Sambil mengenang kembali dirimu dan senyummu
Tak pernah lelah senandungkan keagungan Tuhan
Ramadhan tahun ini, terkumandangkan pengakuan
Bahwa pohon itu tiada jedah berbuah
Lalu kupetik buahnya menjadi berbait-bait puisi

(Ramadhan 2012)

Puisi "KUALI" | Karya Anwari WMK

Puisi
Anwari WMK

KUALI

Merebus mimpi di atas kuali
Dari pagi hingga pagi
Lalu kuali lantang berkata:
"Ajari aku bermimpi
Hai ajari aku bermimpi"

Kini pada kuali
Ada mimpi di atas mimpi
Mimpi yang masih mimpi
Mimpi memperanakkan mimpi

(Ramadhan 2012)