Puisi
Anwari WMK
TAKDIR BERBARIS-BARIS
Takdir berbaris-baris
Laksana tentara di lapangan hijau
Takdir baik. Takdir buruk
Masih jua rapi berbaris-baris
Tiba- tiba,
Dari hamparan langit jauh
Komando tersiar menggelegar
Agar takdir sepenuhnya disiplin
Merawat laku tertabalkan
Sejak permulaan waktu
Dan saat baris-berbaris itu usai
Sekumpulan takdir saling bercakap
Tentang puspa ragam manusia
Dalam senandung pusaran nasib.
Sebagian manusia menggeletak
Di peraduan kepasrahan total
Sebagian lain menerima
Spiral pergumulan progresif
Bergelombang mengguncang
Dan yang lain lagi menolak
Setotal-totalnya takdir
Di atas ketinggian pohon
Burung nuri mendengar percakapan itu
Terkesima takjub memahamkan hayat
Betapa manusia sungguh
Leluasa menggapai pilihan bebas
Hingga kemudian sang manusia
Terperangkap berjuta labirin
Laku pikiran menggelembung
Sebagai belenggu-belenggu
Esok atau lusa
Takdir masih akan berbaris-baris
Laksana tentara di lapangan hijau
Dan kembali akan bercakap
Puspa ragam manusia.
(Pare, akhir Juni 2012)
Sabtu, 24 November 2012
Puisi "BATU BISU" | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
BATU BISU
untuk filosof: Suhrawardi al-Maqtul
dulu,
ia batu bisu
ia bisu batu
kini,
ia batu tak bisu
ia tak bisu batu
dulu,
kukira ia kelam
gelap lahir batin
kini,
kupetik kabar dari langit
pada batin batu semula kucerna kelam
ada matahari bersinar terang
ada rembulan bercahaya benderang
"mau apa lagi?"
kata pucuk-pucuk ilalang
"tak ada hidup dalam diam
pada setiap tengara kelam
berpendar terpendar cahaya
seperti perang antar-bintang"
hari ini kulambaikan tangan
kepada batu bisu itu
sebab ia telah
tak batu bisu
sebab ia telah
bukan bisu batu
dan kepada langit
kuberikan indah senyuman
mewahyukan hakikat
tak ada batu bisu
tak ada bisu batu
meski batu itu
masih terus teronggok
dalam jutaan
lipatan-lipatan waktu
[2012]
Anwari WMK
BATU BISU
untuk filosof: Suhrawardi al-Maqtul
dulu,
ia batu bisu
ia bisu batu
kini,
ia batu tak bisu
ia tak bisu batu
dulu,
kukira ia kelam
gelap lahir batin
kini,
kupetik kabar dari langit
pada batin batu semula kucerna kelam
ada matahari bersinar terang
ada rembulan bercahaya benderang
"mau apa lagi?"
kata pucuk-pucuk ilalang
"tak ada hidup dalam diam
pada setiap tengara kelam
berpendar terpendar cahaya
seperti perang antar-bintang"
hari ini kulambaikan tangan
kepada batu bisu itu
sebab ia telah
tak batu bisu
sebab ia telah
bukan bisu batu
dan kepada langit
kuberikan indah senyuman
mewahyukan hakikat
tak ada batu bisu
tak ada bisu batu
meski batu itu
masih terus teronggok
dalam jutaan
lipatan-lipatan waktu
[2012]
Puisi "LUKISAN MASSA" | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
LUKISAN MASSA
Lelaki itu kian menua
Bersama senandung dawai takdir
Ia masih berpusar dalam hikmat
Pencarian perburuan makna
Dan kian tergerus usia dia,
Lelaki itu semakin tak mampu
Melupakan lukisan massa
Hidup yang telah lampau.
Saat remaja,
Di pegunungan berhawa dingin
Hati lelaki itu tertambat pada
Senyum seindah bulan purnama
Milik seorang gadis
Waktu kemudian terseret tertatih
Dalam kembara tanpa batas
Pencarian perburuan makna
Hakikat kehidupan
Lelaki itu pun coba melupa
Senyum seindah bulan purnama
Tapi kian melupa,
Jiwa batinnya teriris perih.
Senyum seindah bulan purnama itu
Terlanjur berubah menjadi
Rasi bintang penunjuk jalan
Kemana makna musti dikais
Musti ditemukan
Makin tua lelaki itu,
Kian tersentak semburat memori
Senyum seindah bulan purnama
Makin tua lelaki itu
Makin gagap beranjak pergi
Menjauh dari
Lukisan masa nan lalu
Ooh sukma, ooh roh
Kuat kukuhkan dirimu
Mencerna segenap makrifat
Lukisan masa nan lampau
Juni 2011
Catatan:
Puisi ini ditulis sebagai penghormatan terhadap seorang kawan yang kini menyepi di antata ceruk-ceruk pengunungan Papua.
Anwari WMK
LUKISAN MASSA
Lelaki itu kian menua
Bersama senandung dawai takdir
Ia masih berpusar dalam hikmat
Pencarian perburuan makna
Dan kian tergerus usia dia,
Lelaki itu semakin tak mampu
Melupakan lukisan massa
Hidup yang telah lampau.
Saat remaja,
Di pegunungan berhawa dingin
Hati lelaki itu tertambat pada
Senyum seindah bulan purnama
Milik seorang gadis
Waktu kemudian terseret tertatih
Dalam kembara tanpa batas
Pencarian perburuan makna
Hakikat kehidupan
Lelaki itu pun coba melupa
Senyum seindah bulan purnama
Tapi kian melupa,
Jiwa batinnya teriris perih.
Senyum seindah bulan purnama itu
Terlanjur berubah menjadi
Rasi bintang penunjuk jalan
Kemana makna musti dikais
Musti ditemukan
Makin tua lelaki itu,
Kian tersentak semburat memori
Senyum seindah bulan purnama
Makin tua lelaki itu
Makin gagap beranjak pergi
Menjauh dari
Lukisan masa nan lalu
Ooh sukma, ooh roh
Kuat kukuhkan dirimu
Mencerna segenap makrifat
Lukisan masa nan lampau
Juni 2011
Catatan:
Puisi ini ditulis sebagai penghormatan terhadap seorang kawan yang kini menyepi di antata ceruk-ceruk pengunungan Papua.
Puisi "KAKI LUKA" | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
KAKI LUKA
Kaki menggapai luka
Luka segala luka
Dan luka kaki
Menjadi kaki luka
Kini,
Kaki bersukma luka
Luka berjiwa kaki
Oh mana kaki?
Mana luka?
Yang kaki adalah luka
Yang luka adalah kaki
Oh mana kaki?
Mana luka?
[2012]
Anwari WMK
KAKI LUKA
Kaki menggapai luka
Luka segala luka
Dan luka kaki
Menjadi kaki luka
Kini,
Kaki bersukma luka
Luka berjiwa kaki
Oh mana kaki?
Mana luka?
Yang kaki adalah luka
Yang luka adalah kaki
Oh mana kaki?
Mana luka?
[2012]
Puisi "LAUTAN CINTA" | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
LAUTAN CINTA
Ada lautan di bola matamu
Aku berperahu di lautan itu
Sambil senandungkan
Lagu purba:
"Menggait bintang
Jatuhlah rembulan
Penggaitnya janur kuning
Jiwa kelana kian jauh
Tersentuh tubir
Pelataran rindu"
Ada lautan tak bertepi
Di bola matamu
Dan aku terus berperahu
Di lautan itu
Hingga temaram senja
Turut berdendang
Larut dalam semesta
Nyanyianku
Ada lautan di bola matamu
Aku terus berperahu
Tanpa lelah. Tanpa jedah
Di lautan itu
[2012]
Anwari WMK
LAUTAN CINTA
Ada lautan di bola matamu
Aku berperahu di lautan itu
Sambil senandungkan
Lagu purba:
"Menggait bintang
Jatuhlah rembulan
Penggaitnya janur kuning
Jiwa kelana kian jauh
Tersentuh tubir
Pelataran rindu"
Ada lautan tak bertepi
Di bola matamu
Dan aku terus berperahu
Di lautan itu
Hingga temaram senja
Turut berdendang
Larut dalam semesta
Nyanyianku
Ada lautan di bola matamu
Aku terus berperahu
Tanpa lelah. Tanpa jedah
Di lautan itu
[2012]
Puisi "HUJAN SALJU" | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
HUJAN SALJU
Hujan salju di dalam hatimu
Aku beriang gembira
Sembari melafal ucapkan
Sajak-sajak cinta
Bermahkota rindu
Hujan salju di dalam hatimu
Kini kubiarkan diri
Terdekap dingin
Di tengah hujan salju
Di hatimu itu
Sembari senandungkan
Tembang asmaradana
Mungkin engkau
Tak tahu. Tak.
Ada hujan salju di hatimu
Dan engkau juga
Tak tahu. Tak.
Aku beriang gembira
Di tengah gemuruh
Hujan salju
Di hatimu itu
[2012]
Anwari WMK
HUJAN SALJU
Hujan salju di dalam hatimu
Aku beriang gembira
Sembari melafal ucapkan
Sajak-sajak cinta
Bermahkota rindu
Hujan salju di dalam hatimu
Kini kubiarkan diri
Terdekap dingin
Di tengah hujan salju
Di hatimu itu
Sembari senandungkan
Tembang asmaradana
Mungkin engkau
Tak tahu. Tak.
Ada hujan salju di hatimu
Dan engkau juga
Tak tahu. Tak.
Aku beriang gembira
Di tengah gemuruh
Hujan salju
Di hatimu itu
[2012]
Puisi “TIADA” | Karya Anwari WMK
Puisi
Anwari WMK
TIADA
rumput masih hijau
seperti diriku
kala itu
mencerna jejak kakimu
menyeret rindu-rindu
hingga dedaunan perdu
mungkin telah sudah
madah bersulam indah
untuk bara rindu
meruah
dua hati terhempas
gundah
dinda,
biarlah kita menua
dari tiada ke tiada
biarlah termimpi sua
bersama runtuh
airmata
Langganan:
Postingan (Atom)