Rabu, 26 Februari 2014

Puisi "KEKASIH" | Karya Anwari WMK

KEKASIH

Sekuntum rindu rekah
di reranting malam,
dekat sangat dekat
dan gemuruh hujan
tak mampu memetiknya

Aku pun bisu terengkuh sunyi,
berkawan kertas-kertas kumal
bersama pena letih lelah
terseret kelana panjang
di bentangan jauh
lorong-lorong makna

Menjelang Subuh,
setangkai rindu membubung tinggi
pucuk-pucuknya mencium langit
Aku rindu kepada-Mu
rindu tak terbagi
tak teriris
tak terbelah

Oh Engkau Kekasih
jangan biarkan aku pulang
kembali kepada diriku
Biarkan aku berjalan
pulang kembali ke dekap-Mu

Oh Kekasih . . . .
Maha Kekasih

(2014)

ANWARI WMK

Senin, 10 Februari 2014

Puisi "CATATAN TENTANG AIRMATA" | Karya Anwari WMK

CATATAN TENTANG AIRMATA

hari ini kutemukan catatan tentang airmata rindu terselip di antara barisan buku-buku di perpustakaan yang tembok-temboknya bercat semburat biru beludru

pada catatan itu tergores aksara purba berkisah tentang takdir suatu bangsa pada suatu masa, dalam cengkraman musim yang tak pasti

bumi pada bangsa itu adalah hamparan hijau untuk tumbuhnya puspa ragam pohon, dalam lambungnya tersimpan mineral, karbon, batu-batu permata

tapi, bangsa itu kerdil oleh bonsainya cita-cita kaum pemimpin yang hanya lihai menggelembungkan kekayaan harta benda untuk diri sendiri, untuk pengagungan diri sendiri

terus menatap catatan tentang airmata rindu, pelan perlahan batinku menggelegak, hingga lalu menggelegar erupsi jiwa, dan aku tak sanggup lagi memasung teriak, tak kuasa menahan ledakan kata-kata: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."

kini, perpustakaan berbiru beludru terguncang-guncang, terhuyung-huyung, segala isinya berserakan, serupa hantaman lindu.

dan anehnya, setiap orang dalam perpustakaan itu pun meneriakkan ucap kata yang sama: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."

sejenak kemudian, mereka menggapai jalanan besar ditingkahi ramai lalu lintas, dan mereka pun masih terus berteriak: "revolusi belum selesai. revolusi belum selesai. revolusi belum selesai . . . . ."

(Februari 2014)

ANWARI WMK

Minggu, 26 Januari 2014

Puisi "LINTANG KEMUKUS" | Karya Anwari WMK

LINTANG KEMUKUS

Kala menatap Lintang Kemukus
di langit malam
pengelana itu selalu
berkaca-kaca matanya

Ia senantiasa terkenang
bulu-bulu lembut
berbaris-baris indah
di kening seorang gadis

Sudah entah berapa bait
sajak-sajak cinta ia tulis
karna tak kuasa melupa
bulu-bulu lembut di kening itu

Pesona bulu lembut di kening
pada Lintang Kemukus
adalah lipatan-lipatan memori
membakar abadi nyala api rindu
sejak bertahun-tahun lalu

(Januari 2014)

ANWARI WMK

Puisi "FILSAFAT" | Karya Anwari WMK

FILSAFAT

Sambil memegang Al Qur'an
lelaki tua itu mengajari
seorang bocah
hal lhwal filsafat
apa itu filsafat
dan bagaimana filsafat

Malam-malam senantiasa luruh
bersama hawa dingin pegunungan
tapi filsafat terus berkobar
serupa panas nyala api

Lelaki tua itu telah lama wafat
dan bocah itu kini
menua bersama filsafat
ia menangis bersama filsafat
ia sakit bersama filsafat
ia merintih perih bersama filsafat
ia berpuisi bersama filsafat
filsafat bermahkota cahaya
Cahaya Al Qur'an

(Januari 2014)

Anwari WMK

Rabu, 22 Januari 2014

Puisi "BULAN MENATAP BANJIR" | Karya Anwari WMK

BULAN MENATAP BANJIR

kutengadahkan wajah ke langit timur
bulan berselubung awan
bercahaya kelabu kelam
saksi untuk ribuan jiwa
terombang senandung takdir
genangan-genangan banjir

oh rembulan. lihatlah kami
tiada jedah beriang gembira
menista bumi, saudaramu
kami kibarkan panji kemenangan
bersulang segala nyanyian
atas nama pembangunan

lalu bumi meradang
menumpahkan segala peluh dirinya
keringatnya mengalir terjang
tubir-tubir sungai terkoyak
jalanan-jalanan berbilur luka
jembatan-jembatan patah punggungnya

manusia masih tertawa. masih
walau bersama jiwa terkulai
tertusuk lipatan-lipatan sesal

oh rembulan
jika engkau kini berpuisi ihwal
ambisi loba berjubah modernisasi
lantas tergelar opera banjir
aku hanya mampu menyimaknya
dengan batin tertunduk malu

(Januari 2014)

ANWARI WMK