Jumat, 25 Oktober 2013
Puisi "IBU" | Karya Anwari WMK
Selasa, 09 Juli 2013
Puisi "PESAN RAMADHAN" | Karya Anwari WMK
PESAN RAMADHAN
Saat Ramadhan kembali datang
Engkau berkirim pesan
Lewat dedaunan-dedaunan pohon
Kata-katamu dalam pesan:
"Cinta adalah ruh, bukan jasad
Cinta adalah sukma, bukan raga
Cinta adalah rindu yang berkelebat
Cinta adalah airmata, seelok safir mutiara
Maka, di setiap helaan nafas
Kusempurnakan cinta kepadamu
Terus kusempurnakan. Terus. Terus.
Hingga akhirnya aku fana
Mengapai jejak balada panjang
Menuju alam keabadian
Dan di surga sana, kita bersua
Seperti saat masih remaja"
Pada hamparan Bumi lain
Dalam taman bunga bersemilir sepoi
Aku lalu menatap setiap pohon
Kucerna, sebatang demi sebatang
Saat menapak keluar taman
Dedaunan pohon rampak berkidung:
"Marhaban, ya Ramadhan
Marhaban, ya Ramadhan
Akuilah keagungan cinta
Junjunglah kemuliaan cinta
Hiduplah dalam kebersahajaan cinta
Lebur luluhlah dalam cinta
Marhaban, ya Ramadhan
Marhaban, ya Ramadhan"
Berjalan kian menjauhi taman
Jiwa batinku tergetar
Tergeriap ruang waktu luka
Cinta yang sembilu
Aku lalu kehilangan
Kata-kata
(Ramadhan 2013)
ANWARI WMK
Minggu, 28 April 2013
Puisi "DAWAI AIRMATA" | Karya Anwari WMK
DAWAI AIRMATA
sebongkah hati
tertinggal di sebuah kota
dia yang hendak pergi
pelan berkata-kata:
"selamat tinggal"
sebongkah hati
membisu tanpa kata
tak kuasa menegak purna
keindahan kidung sukma
maka, ranum senyumnya
sontak bersketsa senja
berubah menjadi setangkai
getar-gemetar jiwa
sekali lagi, berkatalah
dia yang hendak pergi:
"selamat tinggal"
sembari melambai,
masih berkata-kata
dia yang hendak pergi:
"selamat tinggal,
selamat tinggal
adinda"
lalu,
setangkai getar-gemetar jiwa
berdawai airmata
menyentak hentikan terbang
burung-burung kecil
inilah senandung takdir
untuk sendu adinda
begitulah nyanyian takdir
berdawai airmata
dan kini,
dawai airmata
bertetesan
berjatuhan
di hampar pelataran
stasiun kereta
ooh . . . . .
betapa manisnya cinta
meski bentangan jarak
kembali mengabadikan
sepi tertikam rindu
(Purwokerto, 28 April 2013)
ANWARI WMK
Rabu, 24 April 2013
Catatan Pendidikan "SOLUSI EDUKATIF KEBANGSAAN" | Karya Anwari WMK
SOLUSI EDUKATIF KEBANGSAAN
Oleh
Anwari WMK
Peneliti Filsafat dan Kebudayaan di Sekolah Jubilee, Sunter, Jakarta
SEBAGAI bangsa, ternyata Indonesia dibelit oleh begitu banyak masalah. Dari dunia persepakbolaan hingga politik kekuasaan, belitan masalah itu pun rumit tak berujung pangkal. Seakan, Indonesia merupakan ensiklopedi masalah-masalah. Sehingga, tak mengada-ada jika lalu muncul gagasan untuk menemukan solusi alternatif dengan berpijak pada spirit edukatif. Dalam konteks ini, sengaja dilakukan upaya penelisikan: Bagaimana dunia pendidikan dilibatkan secara serius untuk turut serta mengatasi masalah kebangsaan.
Bagaimana pun, pendidikan merupakan sebuah ranah kehidupan yang masih bening saat menyimak dan menyibak kemelut kebangsaan. Meski pun di sana-sini bertaburan hipokritas, toh dunia pendidikan masih lebih jernih mencerna masalah-masalah kebangsaan. Pendidikan jelas merupakan mercusuar optimisme yang potensial mengubah masalah kebangsaan menjadi tantangan yang musti dituntaskan.
Hal penting yang patut dicatat jika pendidikan sengaja diperlakukan sebagai bagian dari solusi masalah kebangsaan adalah perspektifnya yang spesifik. Manakala disimak berdasarkan perspektif edukatif, maka masalah kebangsaan terbagi menjadi dua kategori pokok.
Pertama, masalah kebangsaan terkait dengan rendahnya daya saing nasional dalam era globalisasi kini. Padahal, implikasi serius yang ditimbulkan oleh rendahnya daya saing nasional adalah memburuknya kesejahteraan rakyat. Di tengah hantaman globalisasi yang tak mengenal belas kasihan, rakyat justru tak memiliki pegangan untuk mempertahankan eksistensinya. Ketiadaan daya saing sama dan sebangun maknanya dengan pemunahan secara pelan perlahan eksistensi rakyat.
Kedua, masalah kebangsaan terkait erat dengan format kebijakan negara. Tak dapat dipungkiri, kebijakan negara tidak aspiratif manakala disimak berdasarkan sudut pandang kedaulatan rakyat. Kebijakan demi kebijakan terus-menerus diproduksi oleh kuasa politik pada berbagai lini. Tapi tragisnya, kebijakan itu tak berpihak pada rakyat banyak. Konyolnya lagi, kebijakan-kebijakan dilahirkan semata sebagai kelanjutan logis dari kepentingan elite-elite politik. Ini merupakan akibat langsung dari realisme politik kontemporer yang sepenuhnya bercorak transaksional. Itulah sesungguhnya politik "wani piro".
Dengan memerhatikan dua kategori masalah tersebut, maka dunia pendidikan pun mampu meneropong potensialitas kebangsaan yang terserak ke berbagai arah. Potensialitas kebangsaan dimaksud adalah beragamnya kelompok masyarakat madani yang menguasai situasi riil kemasyarakatan. Potensilitas kebangsaan yang lain adalah masih terpeliharanya spirit pengorbanan dalam hati sanubari rakyat bangak.
Bertitik tolak dari semua itu, maka upaya saksama yang lantas niscaya dilakukan dunia pendidikan adalah mengembangkan berbagai macam kerangka edukasi tentang politik representasi. Tujuannya, agar formasi keanggotaan parlemen diisi oleh elemen-elemen potensialitas kebangsaan, yang memang diupayakan oleh dunia pendidikan. Substansi pendidikan diberi bobot yang lebih besar untuk turut serta melahirkan figur-figur mumpuni yang kelak berkiprah di parlemen. Proses edukasi lalu diwarnai oleh menguatnya pendidikan kebangsaan.
Selain itu, niscaya bagi dunia pendidikan mengajarkan seluk beluk kebijakan negara yang mengacu pada kebenaran hakiki. Dengan "kebenaran hakiki" berarti, kebijakan negara dirumuskan untuk tujuan pokok agar postur dan sukma kebijakan negara sepenuhnya responsif dan adaptif terhadap aspirasi publik. Maka, harus lahir dan terbentuk apa yang disebut "kebenaran aspiratif publik".
Dengan metode penyampaian secara sederhana, mudah dimengerti dan gampang dicerna, maka berbagai hal yang dikemukakan di atas optimis dapat diwujudkan dalam ranah pendidikan. Jika praksis pendidikan benar-benar berwatak solutif seperti dikemukakan di atas, maka itulah sesungguhnya pendidikan karakter. Artinya, pendidikan membentuk manusia-manusia berkarakter dalam resonansinya dengan solusi masalah kebangsaan.
Tantangan berikutnya lalu kembali pada dunia pendidikan itu sendiri. Bersediakah dunia pendidikan menjawab tantangan ini?[]
Selasa, 23 April 2013
Puisi "PELANGI NEGERI HANTU" | Karya Anwari WMK
PELANGI NEGERI HANTU
Wahai Tuan Putri,
Semoga engkau senantiasa tabah
Mencerna kisah cadas baladaku
Tentang gulita abadi kota hantu
Koran-koran terus berteriak
Membeber segenap koyak
Sebab gema kata di istana kuasa
Menyebut butiran pasir sebagai beras
Hari ini pelangi melukis langit
Memantik pesona keharibaan jiwa
Gerombolan dekil kaum miskin
Berselendang mimpi bianglala
Engkau tahu, Tuan Putri
Kini berkarung-karung pasir
Ditabur ke wajah kaum miskin
Hingga pelangi itu tak pernah lagi
Kasat mata
Tuan Putri, kini jiwaku
Tak hanya menangisi dirimu
Tapi juga menangisi negeriku
Negerimu
(2013)
ANWARI WMK
Catatan Pendidikan "SUBSTANSI, BUKAN SIMBOL" | Karya Anwari WMK
SUBSTANSI, BUKAN SIMBOL
Oleh Anwari WMK
Peneliti Filsafat dan Kebudayaan di Jubilee School, Sunter, Jakarta
HINGGA kini, tak habis-habisnya ruang publik disuguhi pemberitaan pers tentang penganugerahan gelar honoris causa di kalangan pejabat negara. Paling tidak sejak era pasca-Orde Baru, penganugerahan gelar honoris causa di kalangan pejabat negara tersebut telah sedemikian rupa mencuat sebagai fenomena. Para pejabat negara tampak hebat dan dahsyat saat berada di atas panggung penerimaan gelar honoris causa. Ruang publik benar-benar diwarnai tontonan betapa sempurnanya eksistensi pejabat negara itu setelah meraih gelar honoris causa.
Tapi, di sini, mencuat problema eksistensial, yaitu seberapa jelas dan konkret hubungan antara gelar honoris causa pada satu sisi dan karya-karya akademik yang maslahat bagi kehidupan pada lain sisi. Apa yang terjadi jika para pejabat penyandang gelar honoris causa itu ternyata tak menyumbang apa-apa terhadap besarnya kebutuhan lahirnya karya-karya akademik yang maslahat? Bagaimana jika ternyata gelar honoris causa itu hanyalah simbolik belaka?
Tentu saja, tak ada yang keliru dengan simbol-simbol. Sebagai homo kultural, manusia takkan pernah bisa lari dari simbol-simbol. Sejalan dengan sensibilitas kultural, manusia membutuhkan simbol-simbol. Dalam tilikan kultural, teridentifikasi begitu banyaknya satuan-satuan simbol yang dibutuhkan sebagai penanda eksistensi manusia. Cuma saja, sekali pun tergolong mahal, hakikat dari simbol itu hanyalah pelengkap eksistensi semata. Tak lebih dan tak kurang.
Secara kategoris, simbol senantiasa ekuivalen dengan bentuk, dan substansi analog dengan isi. Masalahnya kini, muncul desakan untuk dengan segera melakukan transformasi kebangsaan. Dalam perubahan-perubahan besar abad XXI, para pejabat negara nyata-nyata diperhadapkan dengan pilihan logis-rasional. Bagaimana eksistensi mereka mencuat ke permukaan dengan lebih mengedepankan substansi ketimbang simbol. Eksistensi pejabat negara pada abad XXI, lebih terkait dengan isi ketimbang bentuk.
Pada akhirnya kita tak bisa mengelak dari tuntutan-tuntutan logis. Lebih pentingnya isi ketimbang bentuk sesungguhnya berkaitan erat dengan keniscayaan Indonesia sebagai bangsa besar yang seharusnya mandiri. Besarnya kekayaan sumber daya alam dan besarnya jumlah penduduk merupakan faktor unggulan yang memungkinkan Indonesia sepenuhnya mandiri sebagai bangsa. Tapi kita tahu, selama ini faktor sumber daya alam dan demografi tak terkelola baik. Bahkan, dua faktor itu terbengkalai semrawut hingga lalu dirasakan sebagai kutukan dan beban.
Kuasa politik feodalistik merupakan penyebab pokok terbengkalainya dua faktor unggulan itu. Pada satu sisi, kuasa politik feodalistik terus-terus memosisikan rakyat semata sebagai pelengkap penderita pada keseluruhan relasi kekuasaan. Pada lain sisi, kuasa politik feodalistik lebih merasa absah manakala digdaya tampil di hadapan publik dengan mengutamakan simbol-simbol ketimbang substansi. Pelayanan publik yang tak pernah mumpuni justru lalu membuncah menjadi situasi umum yang tak memungkinkan pejabat negara trengginas dan cekatan melayani rakyat meraih kesejahteraan.
Implikasi strategisnya tampak mencolok pada tak adanya kerangka dan skema inovasi. Tata kelola masyarakat, pemerintahan dan perekonomian tak tersentuh inovasi. Kalau pun makna penting inovasi terus dipidatokan, inovasi ternyata berjalan tanpa landasan filosofi dan tanpa kejelasan arah menggapai kesejahteraan rakyat. Inovasi pun terjebak ke dalam orientasi simbolistik yang sama sekali tak substantif.
Situasi tak menguntungkan itu diperparah oleh timbulnya fenomena honoris causa. Para pejabat negara penerima gelar honoris causa sudah merasa cukup dengan gempitanya seremoni penganugerahan. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, misalnya, selama sembilan tahun terakhir telah menerima tujuh gelar honoris causa. Tapi sayang seribu sayang, sang presiden masih terjebak ke dalam pusaran simbolisme.[]
Senin, 22 April 2013
Puisi "AMARAH" | Karya Anwari WMK
AMARAH
Di radio, suara-suara amarah
Sengit saling bercabik ranah
Kritik bertabur-baur caci-maki
Menggugat laku kuasa nirnurani
Aku hanyalah pendengar sunyi
Retas tanpa selipat ucap
Hingga malam merebah bumi
Gagap berkawan gagasan pengap
Secangkir kopi telah pahitkan kelu
Saat lidah sepenuhnya pena
Resah merapal segenap pilu
Dalam genggam jemari gulana
Sungguh, aku pun terkobar amarah
Mencerna laku pemimpin pongah
Tapi pena terdekap jemari lemah
Memilih senandung sunyi tanah
Dan di radio itu
Suara-suara terus mengingau
Terpelanting di larik-larik jauh
Kian meruapi pusaran amarah
(2013)
ANWARI WMK