Selasa, 29 November 2011

Puisi "LANGIT MERAH" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

LANGIT MERAH

Hanya melalui jalanan panjang
menggapai langit merah

Kadang lurus
kadang berliku
kadang menanjak
kadang menurun
jalanan itu bertabur harapan

Pada penghujungnya
menganga gerbang bundar
warna putih
pelintasan menuju langit merah

Jiwa berbaris-baris
sukma berdesak-desakan
roh berduyun-duyun
menggapai langit merah

Wahai engkau yang bertahta
di pucuk-pucuk ilalang
mari menggapai langit merah
bersama jiwa
bersama sukma
bersama roh

[2011]

Minggu, 27 November 2011

Puisi "JEMBATAN MAHAKAM" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

JEMBATAN MAHAKAM

Pada akhir pekan nan permai
perempuan itu bersepeda motor
bersama suami
bersama puteri terkasihnya
berumur lima tahun

Dari Tenggarong,
keluarga kecil itu
menempuh perjalanan
menuju Samarinda

Belum jua tuntas melintas
Jembatan Mahakam
musibah datang menyergap
bersama pilu lara jiwa

Jembatan Mahakam ambruk
keluarga kecil itu pun terjatuh
ke tengah kancah arus
nan deras

Perempuan itu
diselamatkan suaminya
hingga mampu menggapai
tubir sungai
tapi puteri terkasih mereka
tertinggal di tengah sungai

Sontak sang suami terjun
kembali ke tengah sungai
hingga berjam kemudian
hingga berhari kemudian
suami itu pun
tak pernah muncul lagi

Bersama sang puteri
suami itu pun
hilang diterkam
arus Sungai Mahakam

Ooh takdir
mengapa begitu pilu warnamu
Perempuan itu kini
meratapi kepergian
dua mutiara cinta

Ooh Jembatan Mahakam
ooh Sungai Mahakam
mengapa cinta
harus berkalang duka?
mengapa?
mengapa?

[2011]

Jumat, 25 November 2011

Puisi "FIRMAN" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

FIRMAN

Hewan dan binatang
Bermusyawarah dalam habitatnya
Mengupas firman Tuhan yang suci

Pohon dan tumbuhan
Bermusyawarah dalam himpunannya
Menelaah firman Tuhan yang sakral

Pasir dan bebatuan
Bermusyawarah dalam kumpulannya
Membedah firman Tuhan yang agung

Hewan dan binatang
Pohon dan tumbuhan
Pasir dan bebatuan
Telah memberi pengakuan
Firman terkumandangkan
Untuk setiap takdir kehidupan

Musyawarah demi musyawarah
Lalu riuh redah oleh kesimpulan:
"Manusia hanya paham
Firman untuk dirinya sendiri
Tertera dalam kitab-kitab suci
Manusia abai
Hewan dan binatang bersama firman
Pohon dan tumbuhan bersama firman
Pasir dan bebatuan bersama firman
Sambil terbahak
Atas nama firman yang kitab
Manusia pongah
Menista hewan dan binatang
Menghinakan pohon dan tumbuhan
Melecehkan pasir dan bebatuan"

Hingga alam meradang
Bersama bencana
Manusia belum jua paham
Firman telah berkumandang
Untuk hewan dan binatang
Firman telah berkumandang
Untuk pohon dan tumbuhan
Firman telah berkumandang
Untuk pasir dan bebatuan

[2011]

Senin, 21 November 2011

Puisi "BUIH" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

BUIH

pada pinggiran pantai
seorang anak muda
menatap buih
ia lantas teringat
kata-kata purba
termaktub dalam kitab tua:
"jangan pernah menjadi
himpunan manusia
serupa kumpulan buih
berserakan hilang arah
saat terhempas ombak
ke pantai"

sembari menarik nafas panjang,
anak muda itu bersikeras
masuk ke relung kesadaran
hingga jiwanya menapaki
tonggak-tonggak kesimpulan
bahwa bangsanya kini buih
tak lebih hanyalah buih
pada ruap elegi pilu
kemunafikan mencipta genangan
untuk para pemimpin
berenang dengan riang
surat kabar radio televisi
hanyalah etalase bagi
semak belukar kata-kata

sembari menjauhi pantai
anak muda itu mengeja
segala mungkin
segenap muskil
merawat bangsanya
agar tak kian berbuih
sekadar buih

[2011]

Jumat, 18 November 2011

Puisi "SAMPAI TIBA" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

SAMPAI TIBA

sampai telah tiba
tiba telah sampai
sampai tiba telah
tiba sampai telah
telah sampai tiba
telah tiba sampai

sampai sampai sampai
telah telah telah
tiba tiba tiba

sampai.
telah.
tiba.

untukMu
kehadiratMu

ooh sampai
oooh telah
ooh tiba

untukMu
kehadiratMu

ooh . . . . . .

[2011]

Kamis, 17 November 2011

Puisi "PENDULUM WAKTU" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

PENDULUM WAKTU

Dari satu pendulum waktu
Ke pendulum waktu lain
Dalam dekap cahaya rindu
Kupasrahkan diriku fana
Tenggelam hingga jauh
Dalam samudera sujud
Tafakur tak bertepi
KepadaMu

Duhai Cinta
Cahaya kasihMu abadi
Walau pendulum waktu
Akhirnya runtuh satu-satu
Dan pada segenap punah
Demi menggapai diriMu
Aku tak berarti apa-apa
Sekadar debu tanah
Nista oleh elok
Keindahan pualam

Wahai Kekasih, duhai Cinta
Engkau masih terlampau
Agung
Meski kubiarkan punah
Melumatkan diriku
Dalam nisbi
Selamanya

[2011]

Rabu, 16 November 2011

Puisi "PANAH MATAHARI" | Karya Anwari WMK

Puisi Karya
Anwari WMK

PANAH MATAHARI

Binatang-binatang berlarian
Memburu keselamatan diri
Menggapai rongga relung teduh
Saat berkas-berkas cahaya matahari
Menjelma jutaan anak panah

Kekaisaran binatang heboh
Tak ada lagi waktu syahdu
Bermandikan cahaya matahari
Raja diraja binatang terpaksa
Maklumatkan sebuah titah:
"Jauhi cahaya matahari
Zaman sudah akhir
Tak lagi serentak seiring
Bersama matahari"

Tapi pada kemarau yang puncak
Pada siang yang terik
Seorang lelaki dan perempuan
Melintasi padang luas belantara
Jutaan panah matahari
Putus patah terkulai
Tiada mampu menyentuh
Tubuh mereka

Kekaisaran binatang heboh
Menyoal jati diri:
Siapa sesungguhnya
Dua manusia itu?

Kata sebongkah batu
Di kaki gunung:
"Mereka bukan siapa-siapa
Hanya manusia biasa
Pada jiwa batin mereka
Bersemayam hakikat Tuhan"

Binatang-binatang kini tertunduk
Mengeja segenap simpul
Kedunguan
Kelancungan

[2011]