Puisi Karya
Anwari WMK
ANUGERAH
Setiap pagi datang
Kawanan burung bergegas terbang
Menjemput anugerah
Untuk hidup hari ini
Pada nyanyian burung-burung
Lalu terlantun lirik
Tentang kelapangan dada
Mengatasi beban kehidupan
Pohon-pohon terus berseru
Agar setiap selesai satu urusan
Segera tuntaskan urusan lain
Begitulah anugerah, begitulah.
Dan kawanan burung kini paham
Hanya kepada
Sang penguasa waktu
Harapan-harapan digantungkan
2011
Catatan:
Puisi ini diinspirasi oleh Al Qur'an, Surah Al-Insyirah.
Sabtu, 30 April 2011
Jumat, 29 April 2011
Puisi "JEJAK KAKIMU" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
JEJAK KAKIMU
Di punggung bukit ini
Masih tersisa jejak kakimu
Terukir pada lumpur
Telah mengering
Berkisah tentang cita
Penyelamatan anak negeri
Dari tirani kata dan pikiran
Lama kutatap jejak kakimu itu
Lekukan lumpur kering
Lalu kurasakan
Serupa bangunan sekolah
Batinku terengkuh sadar
Ihwal engkau
Kini guru
Di sebuah sudut Nusantara.
Mungkin ini kali terakhir
Kutatap jejak kakimu.
Tapi setelah ini
Keabadian doa
Terlantun untukmu
Semoga engkau mampu
Mendidik anak-anak negeri
Agar sepenuhnya merdeka
Dari belenggu
Detak terus berdetik
Penjajahan yang tak pernah
Tamat.
2011
Anwari WMK
JEJAK KAKIMU
Di punggung bukit ini
Masih tersisa jejak kakimu
Terukir pada lumpur
Telah mengering
Berkisah tentang cita
Penyelamatan anak negeri
Dari tirani kata dan pikiran
Lama kutatap jejak kakimu itu
Lekukan lumpur kering
Lalu kurasakan
Serupa bangunan sekolah
Batinku terengkuh sadar
Ihwal engkau
Kini guru
Di sebuah sudut Nusantara.
Mungkin ini kali terakhir
Kutatap jejak kakimu.
Tapi setelah ini
Keabadian doa
Terlantun untukmu
Semoga engkau mampu
Mendidik anak-anak negeri
Agar sepenuhnya merdeka
Dari belenggu
Detak terus berdetik
Penjajahan yang tak pernah
Tamat.
2011
Rabu, 27 April 2011
Puisi "LUSUH" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
LUSUH
Baju itu telah lama lusuh
Melekat pada badan yang juga
Kian lusuh
Hingga tengah hari itu
Saat santap siang di bawah
Bayangan pohon
Mereka telah berbilang tahun
Bergelut dalam lusuh
Hidup berjingkrak
Dari tahun ke tahun
Di tangan mereka itu pun
Jalan-jalan besar dihamparkan
Bangunan-bangunan gedung
Dijulang tinggikan
Dan panji-panji pembangunan
Terus dikibarkan
Tapi, mereka hanya paham
Merawat hidup hari ini
Agar tak tercekik kematian
Jauh dari kemeriahan pesta
Berdiri di tubir penderitaan
Hanya mampu rengkuh
Remah-remah pembangunan
Sebagian dari mereka
Telah lama lupa,
Menyebut dirinya
Rakyat Indonesia
Jakarta, 2011
Catatan:
Puisi ini ditulis untuk kuli-kuli bangunan.
Anwari WMK
LUSUH
Baju itu telah lama lusuh
Melekat pada badan yang juga
Kian lusuh
Hingga tengah hari itu
Saat santap siang di bawah
Bayangan pohon
Mereka telah berbilang tahun
Bergelut dalam lusuh
Hidup berjingkrak
Dari tahun ke tahun
Di tangan mereka itu pun
Jalan-jalan besar dihamparkan
Bangunan-bangunan gedung
Dijulang tinggikan
Dan panji-panji pembangunan
Terus dikibarkan
Tapi, mereka hanya paham
Merawat hidup hari ini
Agar tak tercekik kematian
Jauh dari kemeriahan pesta
Berdiri di tubir penderitaan
Hanya mampu rengkuh
Remah-remah pembangunan
Sebagian dari mereka
Telah lama lupa,
Menyebut dirinya
Rakyat Indonesia
Jakarta, 2011
Catatan:
Puisi ini ditulis untuk kuli-kuli bangunan.
Selasa, 26 April 2011
Puisi “TANAH” | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
TANAH
dengan bibir tergetar
perempuan tua itu
tiada henti berkata-kata
tentang tanah yang telah
menyatu dengan peluh
“jangan pernah sejengkal pun mundur kalian”
begitu ucapnya kepada putera-puteranya
“hadapi mandor-mandor perusahaan itu
hadapi tentara-tentara itu
haram mereka rengkuh tanah ini
sebab ini tanah milik moyang kita
sejak kecil, kakiku telah tertancap
di tanah ini
begitu pun dengan kaki kalian
kita tak mengambil apa-apa
dan tak minta kepada siapa-siapa
kita hanya mau bertahan
menggenggam sisa-sisa kedaulatan”
empat anak lelaki perempuan tua itu
lalu bersiaga
bersama parang, pedang, dan kelewang
paham bakal kalah,
perlawanan musti tetap dilakukan
untuk sisa-sisa kedaulatan
untuk sekerat keadilan
bersama nanar mata memerah
saat hari mengetarkan itu
benar-benar datang
tentara bersekutu dengan
mandor-mandor perusahaan
empat lelaki itu pun lantas
membelah langit memekik kencang:
allahu akbar! allahu akbar!
kini, tanah tak hanya menyatu
dengan peluh
tapi juga menyatu dengan
darah yang tertumpah
menyatu dengan airmata
2011
Catatan:
Puisi ini ditulis untuk rakyat yang tanahnya dirampas.
Anwari WMK
TANAH
dengan bibir tergetar
perempuan tua itu
tiada henti berkata-kata
tentang tanah yang telah
menyatu dengan peluh
“jangan pernah sejengkal pun mundur kalian”
begitu ucapnya kepada putera-puteranya
“hadapi mandor-mandor perusahaan itu
hadapi tentara-tentara itu
haram mereka rengkuh tanah ini
sebab ini tanah milik moyang kita
sejak kecil, kakiku telah tertancap
di tanah ini
begitu pun dengan kaki kalian
kita tak mengambil apa-apa
dan tak minta kepada siapa-siapa
kita hanya mau bertahan
menggenggam sisa-sisa kedaulatan”
empat anak lelaki perempuan tua itu
lalu bersiaga
bersama parang, pedang, dan kelewang
paham bakal kalah,
perlawanan musti tetap dilakukan
untuk sisa-sisa kedaulatan
untuk sekerat keadilan
bersama nanar mata memerah
saat hari mengetarkan itu
benar-benar datang
tentara bersekutu dengan
mandor-mandor perusahaan
empat lelaki itu pun lantas
membelah langit memekik kencang:
allahu akbar! allahu akbar!
kini, tanah tak hanya menyatu
dengan peluh
tapi juga menyatu dengan
darah yang tertumpah
menyatu dengan airmata
2011
Catatan:
Puisi ini ditulis untuk rakyat yang tanahnya dirampas.
Puisi "LAGU KEABADIAN" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
LAGU KEABADIAN
Lagu keabadian itu
Senandungkan langkah-langkah sunyi
Bergema dari musim ke musim
Tersuarakan di sepanjang zaman
Pada malam-malam hening
Langkah-langkah sunyi itu
Serasa begitu dekat, dekat,
Sangat dekat,
Seirama detak jantung manusia
Saat nasib terombang-ambing
Samudera jiwa terkepung gulana
Langkah-langkah sunyi itu datang
Hingga setiap harap
Terajut menjadi senyuman
Kepada bunga bakung yang
Tumbuh di halaman
Mentari pagi pun bersaksi
Langkah-langkah sunyi itu penanda
Ihwal kehadiran Tuhan
Persis seperti nubuah para nabi
Tentang kuasa kerajaan langit
Maka, mentari pagi pun berpesan:
”Takzimilah langkah-langkah sunyi itu
Tundukkan jiwa batinmu
Memahamkan segenap makna
Senandung lagu keabadian”
2011
Anwari WMK
LAGU KEABADIAN
Lagu keabadian itu
Senandungkan langkah-langkah sunyi
Bergema dari musim ke musim
Tersuarakan di sepanjang zaman
Pada malam-malam hening
Langkah-langkah sunyi itu
Serasa begitu dekat, dekat,
Sangat dekat,
Seirama detak jantung manusia
Saat nasib terombang-ambing
Samudera jiwa terkepung gulana
Langkah-langkah sunyi itu datang
Hingga setiap harap
Terajut menjadi senyuman
Kepada bunga bakung yang
Tumbuh di halaman
Mentari pagi pun bersaksi
Langkah-langkah sunyi itu penanda
Ihwal kehadiran Tuhan
Persis seperti nubuah para nabi
Tentang kuasa kerajaan langit
Maka, mentari pagi pun berpesan:
”Takzimilah langkah-langkah sunyi itu
Tundukkan jiwa batinmu
Memahamkan segenap makna
Senandung lagu keabadian”
2011
Senin, 25 April 2011
Puisi "MUSA DAN MERRIS" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
MUSA DAN MERRIS
Isteri Fir'aun itu bernama Merris
Pelindung sejati Musa
Sejak bayi Musa ditemukan
Mengambang dalam keranjang
Terhanyut di atas bentangan
Sungai Nil
Berpuluh tahun kemudian
Sebelum pergi jauh membelah
Lautan Merah
Musa datang menghadap Merris
Untuk kali terakhir yang penghabisan
Maka, dengan berlinang airmata
Merris pun berkata:
"Meski engkau anak pungut
Kusayangi dirimu sebagai
Anak kandungku
Kucintai dirimu serupa anak kandungku
Duka pada dirimu, tertoreh abadi
Dalam jiwa batinku perih
Aku menangisi ketiadaanmu di sisiku
Tanyakan pada Tuhanmu, anakku
Apakah setelah membelah
Lautan Merah itu
Engkau dilarang menjumpai aku
Ibumu.
Ibumu."
Mendengar semua itu,
Musa tak mampu berkata apa-apa
Lidahnya kelu, dan matanya mulai
Sembab berkaca-kaca
Jiwa batinnya tergetar oleh
Untaian sukma cinta tiada tara
Ingin ia peluk ibundanya itu
Tapi titah langit meniscayakan Musa
Segera bergegas menuju Lautan Merah
Merris lalu menatap Musa
Merundukkan wajah
Berjalan mundur pelan-pelan
Menjauh dari istana Fir'aun
Menjauh dan terus menjauh
Hingga sang putra terkasih itu
Hilang dari pandangan
Sejak saat itu,
Merris senandungkan
Tembang keabadian rindu
Kepada putra terkasihnya itu.
Musa.
2011
Anwari WMK
MUSA DAN MERRIS
Isteri Fir'aun itu bernama Merris
Pelindung sejati Musa
Sejak bayi Musa ditemukan
Mengambang dalam keranjang
Terhanyut di atas bentangan
Sungai Nil
Berpuluh tahun kemudian
Sebelum pergi jauh membelah
Lautan Merah
Musa datang menghadap Merris
Untuk kali terakhir yang penghabisan
Maka, dengan berlinang airmata
Merris pun berkata:
"Meski engkau anak pungut
Kusayangi dirimu sebagai
Anak kandungku
Kucintai dirimu serupa anak kandungku
Duka pada dirimu, tertoreh abadi
Dalam jiwa batinku perih
Aku menangisi ketiadaanmu di sisiku
Tanyakan pada Tuhanmu, anakku
Apakah setelah membelah
Lautan Merah itu
Engkau dilarang menjumpai aku
Ibumu.
Ibumu."
Mendengar semua itu,
Musa tak mampu berkata apa-apa
Lidahnya kelu, dan matanya mulai
Sembab berkaca-kaca
Jiwa batinnya tergetar oleh
Untaian sukma cinta tiada tara
Ingin ia peluk ibundanya itu
Tapi titah langit meniscayakan Musa
Segera bergegas menuju Lautan Merah
Merris lalu menatap Musa
Merundukkan wajah
Berjalan mundur pelan-pelan
Menjauh dari istana Fir'aun
Menjauh dan terus menjauh
Hingga sang putra terkasih itu
Hilang dari pandangan
Sejak saat itu,
Merris senandungkan
Tembang keabadian rindu
Kepada putra terkasihnya itu.
Musa.
2011
Minggu, 24 April 2011
Puisi "PERMAINAN" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
PERMAINAN
ada pesona pada permainan
tapi untuk siapa itu pesona?
untuk pemain?
ataukah
untuk peristiwa?
pesona
tak pernah untuk pemain
juga tak untuk peristiwa
pesona
untuk pemain yang lebur
ke dalam peristiwa
ada pesona dalam permainan
jika ego telah ditanggalkan
bila peristiwa
memanusiakan manusia
dunia berhenti bermain
jika ego dipertuhankan
bila peristiwa menjadi tiran
lalu, segenap permainan
kehilangan pesonanya
punah keindahannya
dan sungguh,
baik di timur atau barat
dunia kini berputar pusar
tanpa permainan
pada jiwa batin manusia pun
terhampar padang tandus
luas, kian meluas
terus meluas.
hingga sisa empun pagi pun
pada tetes yang penghabisan
2011
Anwari WMK
PERMAINAN
ada pesona pada permainan
tapi untuk siapa itu pesona?
untuk pemain?
ataukah
untuk peristiwa?
pesona
tak pernah untuk pemain
juga tak untuk peristiwa
pesona
untuk pemain yang lebur
ke dalam peristiwa
ada pesona dalam permainan
jika ego telah ditanggalkan
bila peristiwa
memanusiakan manusia
dunia berhenti bermain
jika ego dipertuhankan
bila peristiwa menjadi tiran
lalu, segenap permainan
kehilangan pesonanya
punah keindahannya
dan sungguh,
baik di timur atau barat
dunia kini berputar pusar
tanpa permainan
pada jiwa batin manusia pun
terhampar padang tandus
luas, kian meluas
terus meluas.
hingga sisa empun pagi pun
pada tetes yang penghabisan
2011
Langganan:
Postingan (Atom)






