Senin, 15 Desember 2014

Pelakon Takdir

PELAKON TAKDIR

Aku dan engkau hanyalah
Pelakon-pelakon takdir
Keindahan fana purnama

Aku lalu merintih
Bersama narasi
Keindahan kata-kata

Dan engkau pun membacanya
Bersama senandung syahdu
Runtuh airmata

(Oktober 2014)

ANWARI WMK

Jumat, 03 Oktober 2014

Lapor

LAPOR

Kepada tuan filosof Aristoteles
Kepada tuan filosof Al-Farabi
Lapor:

Politik di Indonesia
Tanpa kebajikan

Politik di Indonesia
Pandir

Politik di Indonesia
Dungu

Politik di Indonesia
Pesta para maling

Politik di Indonesia
Kumpulan bandit

Politik di Indonesia
Gerombolan penculeng

Laporan
Selesai!

(Oktober 2014)

ANWARI WMK

Selasa, 30 September 2014

Tangkai Rindu

TANGKAI RINDU

Di penghujung September
Saat waktu tercabik sunyi
Seorang lelaki menggenggam
Setangkai mawar merah
Bersama jiwa rona pesona
Berjalan tegap di antara
Teduh pepohonan rindang

Kala langkahnya sampai
Di stasiun kereta api
Ia menatap orang-orang
Berkerumun mengepung
Kertas ukuran jumbo
Tertempel di dinding kusam
Dan suara lantas terpekik
Demi menyibak kabar
Kereta api tercabik maut
Di antara liuk rel dan rangkaian

Lelaki itu lantas tertunduk
Membisu tanpa kata
Hati dan jiwanya koyak
Serupa serpihan kaca retak
Runtuh airmatanya
Sempurna membasahi
Setangkai mawar merah

Dalam lipatan tahun
Ia masih terkenang
Senyum perempuan bidadari
Berpayung merah jambu
Menggenapi segenap relung waktu
Meski kian mengiris pilu duka
Dalam cekak kemarau sukma
Perih pedih tak bertapal batas

Sebelum wafat,
Lelaki itu menulis sepotong sajak:
“Tentang bunga cintaku
Abadi selamanya
Bertangkai keindahan rindu”

(September 2014)

ANWARI WMK

Catatan: Untuk seorang sahabat yang telah wafat. Kawan, menangis aku saat menulis sajak ini. Semoga bahagia engkau di dunia sana, bersama sang bidadari yang selalu engkau gambarkan: “senang berpayung merah jambu”.

Rabu, 10 September 2014

PENYIRAM MAWAR MERAH

PENYIRAM MAWAR MERAH

Lelaki itu berdiri kokoh
Di puncak ketinggian bukit hijau
Ia memandangi kejauhan lembah
Menatap sosok seorang perempuan
Menyiram berkuntum-kuntum
Kembang mawar merah

Seekor burung, terbang
Datang dari lembah
Menuju ketinggian puncak bukit
Untuk memberi mahkota pekabaran
Maka, berkatalah sang burung:

“Tahukah engkau, wahai lelaki
Saat perempuan itu menyiram
Kembang-kembang mawar merah
Dia menyiram bersama perih
Sambil bersenandung pedih
Menyanyikan puisi-puisi cinta
Puisi goresan penamu”

Demi mendengar kabar itu,
Tubuh sang lelaki bergetar
Wajahnya menunduk
Menatap tanah rerumputan
Tapi ia musti memenuhi takdir
Berjalan mengapai zona jauh
Menjejak pelataran panjang
Menerobos debu,
Menginjak lumpur,
Menentang angin
Dan halilintar
Ia terpilin kelana
Tak berujung akhir

Dan bila gerimis tiba
Sejenak ia menghentikan langkah
Berteduh secara sederhana
Lalu kembali menulis puisi cinta
Puisi untuk perempuan
Si penyiram mawar merah

[Gorontalo-Jakarta, 8 September 2014]

ANWARI WMK

Sabtu, 06 September 2014

Negeri Wadipalapa

NEGERI WADIPALAPA

Aku asing di Negeri Wadipalapa
Datang bersama teropong falsafah
Agar paham lipatan-lipatan hakikat
Tentang detak peradaban
Gorontalo yang lampau

Di segenap penjuru mata angin
Kutatap ketersusunan hayat
Di balik debu realitas manusia
Ada komando kepemimpinan
Dan kawula rapi berderap

Kala senja di atas bukit
Kuberucap kepada diri
Ihwal dua hayat berlapis
Terpisah
Tanpa saling intervensi
Dekat tapi jauh
Jauh tapi dekat

Aku asing di Negeri Walipalapa
Mengais butiran-butiran makna
Dari laut dan gunung
Dari batu dan pohon
Ternyata, aku belum khatam
Belum! Belum!

(Bongo, Gorontalo, September 2014)

ANWARI WMK


Jumat, 08 Agustus 2014

SENANDUNG RUMPUN MAWAR

SENANDUNG RUMPUN MAWAR

Indah pesona mawar-mawar di halaman, menanti dia yang datang dari jauh membawa sekuntum rindu.

Kala yang ditunggu tiba, mawar-mawar pun berucap kata: "Selamat datang cinta. Selamat datang cinta. Selamat datang di rumah kesejatian makna."

Dia yang baru saja datang dari jauh, tak mampu berkata apa-apa. Hanya di sudut pelupuk matanya ada bulir tangis yang meleleh.

Oh rindu, oh cinta.

(2014)

ANWARI WMK

Sabtu, 02 Agustus 2014

Puisi "NAFAS ABADI" | Karya Anwari WMK

NAFAS ABADI

Ombak mati
Angin sekarat
Ditelan fatamorgana
Fana. Fana. Fana
Dan hanya pada rindu
Tersisa sengal nafas abadi

(Kalisat, 3 Agustus 2014)

ANWARI WMK