PELAKON TAKDIR
Aku dan engkau hanyalah
Pelakon-pelakon takdir
Keindahan fana purnama
Aku lalu merintih
Bersama narasi
Keindahan kata-kata
Dan engkau pun membacanya
Bersama senandung syahdu
Runtuh airmata
(Oktober 2014)
ANWARI WMK
PELAKON TAKDIR
Aku dan engkau hanyalah
Pelakon-pelakon takdir
Keindahan fana purnama
Aku lalu merintih
Bersama narasi
Keindahan kata-kata
Dan engkau pun membacanya
Bersama senandung syahdu
Runtuh airmata
(Oktober 2014)
ANWARI WMK
TANGKAI RINDU
Di penghujung September
Saat waktu tercabik sunyi
Seorang lelaki menggenggam
Setangkai mawar merah
Bersama jiwa rona pesona
Berjalan tegap di antara
Teduh pepohonan rindang
Kala langkahnya sampai
Di stasiun kereta api
Ia menatap orang-orang
Berkerumun mengepung
Kertas ukuran jumbo
Tertempel di dinding kusam
Dan suara lantas terpekik
Demi menyibak kabar
Kereta api tercabik maut
Di antara liuk rel dan rangkaian
Lelaki itu lantas tertunduk
Membisu tanpa kata
Hati dan jiwanya koyak
Serupa serpihan kaca retak
Runtuh airmatanya
Sempurna membasahi
Setangkai mawar merah
Dalam lipatan tahun
Ia masih terkenang
Senyum perempuan bidadari
Berpayung merah jambu
Menggenapi segenap relung waktu
Meski kian mengiris pilu duka
Dalam cekak kemarau sukma
Perih pedih tak bertapal batas
Sebelum wafat,
Lelaki itu menulis sepotong sajak:
“Tentang bunga cintaku
Abadi selamanya
Bertangkai keindahan rindu”
(September 2014)
ANWARI WMK
Catatan: Untuk seorang sahabat yang telah wafat. Kawan, menangis aku saat menulis sajak ini. Semoga bahagia engkau di dunia sana, bersama sang bidadari yang selalu engkau gambarkan: “senang berpayung merah jambu”.
PENYIRAM MAWAR MERAH
Lelaki itu berdiri kokoh
Di puncak ketinggian bukit hijau
Ia memandangi kejauhan lembah
Menatap sosok seorang perempuan
Menyiram berkuntum-kuntum
Kembang mawar merah
Seekor burung, terbang
Datang dari lembah
Menuju ketinggian puncak bukit
Untuk memberi mahkota pekabaran
Maka, berkatalah sang burung:
“Tahukah engkau, wahai lelaki
Saat perempuan itu menyiram
Kembang-kembang mawar merah
Dia menyiram bersama perih
Sambil bersenandung pedih
Menyanyikan puisi-puisi cinta
Puisi goresan penamu”
Demi mendengar kabar itu,
Tubuh sang lelaki bergetar
Wajahnya menunduk
Menatap tanah rerumputan
Tapi ia musti memenuhi takdir
Berjalan mengapai zona jauh
Menjejak pelataran panjang
Menerobos debu,
Menginjak lumpur,
Menentang angin
Dan halilintar
Ia terpilin kelana
Tak berujung akhir
Dan bila gerimis tiba
Sejenak ia menghentikan langkah
Berteduh secara sederhana
Lalu kembali menulis puisi cinta
Puisi untuk perempuan
Si penyiram mawar merah
[Gorontalo-Jakarta, 8 September 2014]
ANWARI WMK
SENANDUNG RUMPUN MAWAR
Indah pesona mawar-mawar di halaman, menanti dia yang datang dari jauh membawa sekuntum rindu.
Kala yang ditunggu tiba, mawar-mawar pun berucap kata: "Selamat datang cinta. Selamat datang cinta. Selamat datang di rumah kesejatian makna."
Dia yang baru saja datang dari jauh, tak mampu berkata apa-apa. Hanya di sudut pelupuk matanya ada bulir tangis yang meleleh.
Oh rindu, oh cinta.
(2014)
ANWARI WMK
NAFAS ABADI
Ombak mati
Angin sekarat
Ditelan fatamorgana
Fana. Fana. Fana
Dan hanya pada rindu
Tersisa sengal nafas abadi
(Kalisat, 3 Agustus 2014)
ANWARI WMK