Minggu, 20 Juli 2014

Puisi "IJINKAN KAMI" | Karya Anwari WMK

IJINKANLAH KAMI

Kami kini menyulam hidup
Bersama air dan tanah
Segenap penjuru cumalah gelap
Berseliput kabut kelam

Maka, ijinkan kami hidup
Berkawan makrifat diri
Agar segera kami sampai
Menjangkau berderang cahaya

Lalu, ijinkan kami hidup
Di keharibaan jiwa dan ruh
Serta hanya di jalan-Mu
Ijinkan kami, gegas berangkat

(Ramadan 2014)

ANWARI WMK

Sabtu, 19 Juli 2014

Puisi "MENEMBUS MALAM" | Karya Anwari WMK

MENEMBUS MALAM

Kini kugandeng tanganmu
Terbang tinggi menembus malam
Merapal semesta keindahan
Galaksi dan bintang-gemintang

Engkau lalu bersenandung
Tentang kesejatian cinta
Ihwal keagungan rindu
Kita yang sungguh fana

Engkau berbisik pelan:
"Apa musti kuucap lagi
Sajak liris cintamu
Kau tulis hanya untukku?"

Sajak yang mana, tanyaku
"Sajakmu yang berkisah
Tentang JALAN AIRMATA"
Jawabmu

Sontak aku menjawab:
Jangan kau baca lagi sajak itu
Sebab, kutulis itu untukmu
Bersama tumpah airmata lara

Engkau diam, lantas tersenyum
Di antara kilatan cahaya bintang
Kutatap dalam-dalam wajahmu
Engkau sangat cantik, Tuan Putri

Menjelang subuh
Aku kembali duduk
Di antara pena dan kertas-kertas
Di Bumi, tanpa dirimu

(Ramadan 2014)

ANWARI WMK

Jumat, 18 Juli 2014

Puisi "BILA TIBA SAAT" | Karya Anwari WMK

BILA TIBA SAAT

Bila tiba saat menghadap-Mu
Hangatkan tubuh kami
Dengan selimut Rahmat-Mu
Dengan selimut Berkah-Mu
Dengan selimut Ampunan-Mu

Bila tiba saat menghadap-Mu
Putihkanlah wajah kami
Tatkala wajah-wajah berubah
Menjadi hitam
Dan jangan hitamkan wajah kami
Tatkala wajah-wajah memutih

Bila tiba saat menghadap-Mu
Jangan Engkau berikan
Catatan amal kami di tangan kiri
Juga jangan dari belakang kami
Jangan pula di leher kami
Melingkar-lingkar rangkaian dosa

Bila tiba saat menghadap-Mu
Berikanlah catatan amal kami
Hanya di tangan kanan
Mudahkan segala kalkulasi kebijakan
Dan segerakan kami berjalan
Menuju rumah keabadian
Di semesta keindahan surga

Walau tanpa keindahan kata-kata
Meski tanpa keelokan narasi
Hanya kepada-Mu kami berucap
Tentang jiwa yang berjuta harap

(Ramadan 2014)

ANWARI WMK

Selasa, 15 Juli 2014

Puisi "TEKUK LUTUT" | Karya Anwari WMK

TEKUK LUTUT

Malam-malam Ramadan berlalu
Bersama dingin terkoyak sepi
Hanya ada satu pengakuan:
Tekuk lutut jiwa pada keindahan

Engkaulah pemilik keindahan itu
Dan akulah pengangum sejatinya
Biarlah kurawat tekuk lutut ini
Di hadapan-Mu terhampar pasrah

(Ramadan 2014)

ANWARI WMK

Puisi "HAI KEKASIH" | Karya Anwari WMK

HAI KEKASIH

Hai kekasih
Semoga engkau bahagia
Dalam keterbekuan rindu
Bersama nyanyian cintaku

Jiwaku kini kembali terseok
Oleh lumat dingin malam
Aku gagal memejamkan mata
Saat pikiran tersita nista manusia

Ternyata kita hanya saksi
Kuasa politik penuh sengkarut
Orang-orang berdebat tanpa arah
Tak bertujuan. Tak bermakrifat

Kucoba paham segala ocehan
Tapi isinya hanya caci maki
Argumentasi sontak mati
Tertusuk duri kata-kata

Engkau mungkin masih ingat
Ucapku dulu di kala senja
Bahwa politik adalah kemuliaan
Berubah menjadi kebinatangan

Akal sehatku kini tumpul
Memahami aneka kegusaran
Atas nama kekuasaan
Kata-kata bersulam logika setan

Seandainya engkau kini
Di sini bersamaku
Engkau kan menatap torehan
Tinta penaku berkesumba darah

Hai kekasih
Ingin kumemelukmu erat-erat
Saat airmataku kembali tumpah
Untuk Indonesia yang kian nista

Hai kekasih
Hai . . . . .

Ramadan 2014

ANWARI WMK

Minggu, 13 Juli 2014

Puisi "MUNAJAT RAMADAN" | Karya Anwari WMK

MUNAJAT RAMADAN

Menjejak selasar Ramadan
Kuhibahkan jiwa raga
Bermusafir dari kota ke kota
Dan seuntai rahasia, terkuak

Dulu kutanya diri sendiri
Di manakah belahan jiwa
Saksi tumpahan airmata
Dari sujud ke sujud?

Langit bisu tanpa kata
Hanya di penghujung senja
Menjelang Ramadan tiba
Tersulam indah tatapan mata

Doa-doa lantas membahana
Demi merengkuh selamanya
Tatapan mata itu
Dalam tatapan mataku

Di selasar Ramadan kini,
Tuhan begitu dekat
Saat kukenang kembali
Sorot tatapan mata itu

Oh Tuhan,
Keindahan-Mu terpercik
Pada elok tatapan mata itu
Izinkan aku memilikinya
Seutuhnya

Bandung-Jakarta, Ramadan 2014

ANWARI WMK

"TIGA PUISI GORONTALO" | Karya Anwari WMK

TIGA PUISI GORONTALO

Catatan: Selama melakukan perjalanan ke Gorontalo dan beberapa kawasan sekitarnya, 18-23 Juni 2014, berhasil ditulis tiga buah puisi. Semoga bermakna, berikut puisi-puisi dimaksud:

(1)
KEKASIHKU

Setiap perjumpaan adalah
Anugerah tiada tara
Maka aku mensyukuri
Perjumpaan demi perjumpaan
Dengan dirimu

Betapa indah perjumpaan
Dengan dirimu itu
Seutuhnya tersuar pada
Senyummu
Sorot matamu
Aku memetik sekuntum sajak
Bila menatap senyummu
Aku menuai puisi rindu
Dari sorot indah matamu

Sekarang aku berjalan tanpa dirimu
Menggapai sebagian sudut Nusantara
Kucari mutiara-mutiara makna
Di antara tumpukan riwayat
Pergolakan hidup rakyat
Sebagai hamba sahaya

Di tikungan sejarah
Ketemukan nama-nama
Para pengibar panji
Kemuliaan manusia
Bahwa rakyat bukanlah
Hamba sahaya

Di kaki gunung aku bicara
Dengan anak-anak muda
Tentang masa depan kehidupan
Mereka mengeraskan kepal
Sebab sepenuhnya tahu
Telah dan terus diabaikan

Malam ini aku lelah
Sengkarut Nusantara
Bertumpuk menjibun
Di kepalaku
Ingin aku lelap
Tapi mataku nanar
Menatap catatan-catatan

Lalu, kukenang kembali
Senyum dan indah bola matamu
Sambil menatap keremangan waktu
Lewat tengah malam

Kekasih,
Seandainya engkau kini di sini
Menemaniku tercekam sepi
Engkau akan tahu
Aku menangis. Menangis
Menangis untuk
Indonesia yang compang-camping

Jakarta-Makassar-Gorontalo, 18 Juni 2014

ANWARI WMK

(2)
PADA SEBUAH PALKA

Pada sebuah palka
Kurenungi kembali Indonesia
Malam telah sungguh larut
Saat pelayaran ini membelah laut

Di dek tingkat dua
Aku lelap tanpa mimpi
Terbangun oleh tangis bocah
Kupandangi segala arah

Aku kini secuil dari himpunan
Rakyat yang lelah terlelap
Di dek tingkat dua itu
Kami serupa kaum proletar

Pagi di atas palka
Kupandangi wajah-wajah
Oh proletar
Himpunan yang proletar

Walau terpancar harap
Hanya sukma yang purna
Merdeka masih sebatas jiwa
Belum merambah menggapai raga

Di atas palka
Kurenungi kembali Indonesia

Teluk Tomini, 20 Juni 2014

ANWARI WMK

(3)
BALADA TELUK TOMINI

Antara Gorontalo dan Pagimana
Antara Pagimana dan Bunta
Terentang selarik balada
Bersama batin yang bertanya

Pada bentangan garis antara
Gorontolo-Pagimana
Tercetus tanya tentang Teluk Tomini
Adakah peradaban dapat diwujudkan?

Pada segala lekuk liku
Jalanan mulus bopeng Pagimana-Bunta
Tergelegak tanya tentang gembur tanah subur
Sudahkah terkelola rapih?

Kutatap langit, laut dan bukit-bukit
Tersimpul arti tentang rakyat
Paham alfabeta kemerdekaan
Tapi etos, entah terselip di mana?

Oh Teluk Tomini
Engkau mutiara peradaban
Tapi tak dimengerti seutuhnya
Sekadar cerita dalam serpihan riwayat

Bunta-Pagimana-Gorontalo, 20-21 Juni 2014

ANWARI WMK