Minggu, 13 Juli 2014

Puisi "MAKRIFAT SEEKOR BURUNG" | Karya Anwari WMK

MAKRIFAT SEEKOR BURUNG

Seekor burung terbang dari ketinggian bukit
Di pucuk pohon pelataran rumah, ia hinggap
Aku menatapnya dengan takzim
Karena burung itu lantang berkata-kata:

"Mengapa ada kenabian di Bumi?
Sebab Tuhan tak pernah rela
Bumi kosong, melompong sepi
Dari keagungan argumentasi"

Mendengar itu,
Secepat kilat kubertanya:
"Argumentasi apa?"
Dan burung itu kembali berkata:

"Argumentasi ihwal Tuhan nan esa
Agar manusia purna seutuhnya paham
Bahwa baka adalah baka
Bahwa fana adalah fana
Bahwa hakikat adalah hakikat
Bahwa duplikat adalah duplikat
Dan agar manusia tahu
Bahwa Tuhan tak berbatas waktu"

Sejenak kemudian. Seorang kawan datang
Kusambut dia, dengan jabat tangan
Saat kembali kutatap pohon di pelataran
Burung itu telah pergi, menyisakan teka-teki

Jakarta-Bandung, Ramadan 2014

ANWARI WMK

Rabu, 09 Juli 2014

Puisi "BALADA CINTA" | Karya Anwari WMK

BALADA CINTA

Dari kejauhan geografi
Engkau bersuar tanya:
"Buka puasa di mana?
Menunya apa?"

Sontak. Baladaku bersemburat
Puncak keindahan sukma
Hingga semesta jiwaku
Tergetar menggeletar

Kembali kucerna wajahmu
Kukenang sorot matamu
Seperti sajak dan puisi
Engkau, kubaca kembali

Di pelataran malam
Pada liku kembara sunyi
Batinku perih
Lirih berkata-kata:

"Terima kasih cinta
Dalam tikam belati rindu
Terima kasih cinta
Dalam kebermaknaan airmata"

(Manggarai, Ramadan 2014)

ANWARI WMK

Minggu, 06 Juli 2014

Puisi "SANG PENGELANA" | Karya Anwari WMK

SANG PENGELANA

Hingga malam kian menua
Pengelana itu lebur dalam
Pesona cahaya hijau lumut
Ia lalu mereguk sejuk
Kesyahduan wangi aroma Ramadan

Esok paginya di pucuk pohon
Burung-burung pipit serentak
Mengalunkan senandung doa:
"Oh Tuhan Maha Pengasih
Betapa tak bertepi karunia-Mu
Sudilah Engkau terima
Bulir kristal airmata
Munajat rindu sang pengelana
Di atas hamparan sajadah."

Teriring doa burung-burung pipit
Pengelana itu kembali
Menjejak balada panjang
Berliku dan mendaki

Oh . . . . .
Ramadan karim
Ramadan karim

Ramadan 2014

AWM Kamandanu

Puisi " JALAN TUHAN" | Karya Anwari WMK

JALAN TUHAN

Kutemukan jalan menuju Tuhan
Tapi kumelangkah pelan perlahan
Kidung lirih mendesirkan jiwaku
Aku pun berjalan sambil menoleh

Tuan Putri, di mana engkau berada?
Kutunggu engkau. Kunanti dirimu
Di sini. Di persimpangan senja ini
Mari kita bergandeng tangan. Mari

Tuan Putri,
Segeralah mendekat, dekap diriku
Inilah jalan lurus itu. Jalanku. Jalanmu.
Jalan keabadian cinta

Jakarta, 6 Juli 2014

ANWARI WMK

Puisi "TWO MOMENTOES" | Karya Anwari WMK

TWO MOMENTOES

A poem for Anira
Written with sincerity
In the desolate life
In bleak time

Anira, a man poet staring you
Two momentoes in your heart
How serene your love
How  lovely your lonesome

(2014)

ANWARI WMK

Puisi "KERETA KENCANA" | Karya Anwari WMK

KERETA KENCANA

Pagi hari di dermaga
Seorang Pangeran berlabuh
Saat kakinya menjejak Bumi
Ia menatap pandang segala arah

Tuan Putri, ternyata
Tak datang menjemputnya
Hanya kereta kencana
Menyambut Sang Pangeran tiba

Duduk di kereta kencana
Bersama pendar batin cahaya
Untuk jiwa Tuan Putri
Sang Pangeran bersyair:

"Telah terpancang keagungan cinta
Untuk jiwa yang kembara
Engkau memang tak bersamaku
Tapi hatiku dan hatimu satu"

Pada laju kereta kencana
Cinta kian berderai-derai
Tanpa titik. Tanpa koma
Begitulah takdir, keindahan rindu

Surabaya, 25 Juni 2014

ANWARI WMK

Puisi "KEKASIHKU" | Karya Anwari WMK

KEKASIHKU

Setiap perjumpaan adalah
Anugerah tiada tara
Maka aku mensyukuri
Perjumpaan demi perjumpaan
Dengan dirimu

Betapa indah perjumpaan
Dengan dirimu itu
Seutuhnya tersuar pada
Senyummu
Sorot matamu
Aku memetik sekuntum sajak
Bila menatap senyummu
Aku menuai puisi rindu
Dari sorot indah matamu

Sekarang aku berjalan tanpa dirimu
Menggapai sebagian sudut Nusantara
Kucari mutiara-mutiara makna
Di antara tumpukan riwayat
Pergolakan hidup rakyat
Sebagai hamba sahaya

Di tikungan sejarah
Ketemukan nama-nama
Para pengibar panji
Kemuliaan manusia
Bahwa rakyat bukanlah
Hamba sahaya

Di kaki gunung aku bicara
Dengan anak-anak muda
Tentang masa depan kehidupan
Mereka mengeraskan kepal
Sebab sepenuhnya tahu
Telah dan terus diabaikan

Malam ini aku lelah
Sengkarut Nusantara
Bertumpuk menjibun
Di kepalaku
Ingin aku lelap
Tapi mataku nanar
Menatap catatan-catatan

Lalu, kukenang kembali
Senyum dan indah bola matamu
Sambil menatap keremangan waktu
Lewat tengah malam

Kekasih,
Seandainya engkau kini di sini
Menemaniku tercekam sepi
Engkau akan tahu
Aku menangis. Menangis
Menangis untuk
Indonesia yang compang-camping

Jakarta-Makassar-Gorontalo, 18 Juni 2014

ANWARI WMK