Puisi Karya
Anwari WMK
GUNUNG UHUD
Dalam sekerat waktu
Nabi datang ke puncak
Gunung Uhud
Sontak,
Sekujur gunung bergetar
"Gempa bumi,"
Ucap dua orang sahabat
Kata Nabi:
"Ini bukan gempa bumi
Gunung Uhud bergembira
Menyambut kehadiranku"
Gunung Uhud terus bergetar
Terus dan terus bergetar
Hingga Nabi pun berkata:
"Gunung Uhud,
Berhentilah bergetar
Sebab aku telah paham
Engkau sangat bergembira"
Gunung Uhud lantas
Berhenti bergetar
Takzim pada ucap kata
Sang Nabi
Madinah, 12 Mei 2011
Selasa, 17 Mei 2011
Puisi "POHON AIRMATA" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
POHON AIRMATA
Di dua kota suci
Pohon-pohon filsafat
Masih tumbuh bermekaran
Menghijau di kebon-kebon kesadaran
Semula, nubuah tertoreh
Di atas hamparan pasir pantai
Bahwa mungkin
Pohon-pohon filsafat
Di kebon kesadaran
Pada dua kota suci itu
Bakal bertumbangan
Tiada mampu menatap silau
Pijar kegaiban menggeletar
Di dua kota suci itu, ternyata
Pohon-pohon filsafat
Masih tumbuh bermekaran
Tapi, daun-daunnya berubah
Menjadi airmata
Menangisi masa lalu sia-sia
Buah-buahnya berubah
Menjadi airmata
Untuk tiap resah tak terjawab
Kesadaran filsafat
Di dua kota suci itu.
Telah meruntuhkan
Airmata fana
Maka, filsafat masih akan
Mengalirkan kebeningan jiwa
Mengapai jalan-jalan makrifat
Meraih jalan-jalan hakikat
Madinah, 10 Mei 2011
Anwari WMK
POHON AIRMATA
Di dua kota suci
Pohon-pohon filsafat
Masih tumbuh bermekaran
Menghijau di kebon-kebon kesadaran
Semula, nubuah tertoreh
Di atas hamparan pasir pantai
Bahwa mungkin
Pohon-pohon filsafat
Di kebon kesadaran
Pada dua kota suci itu
Bakal bertumbangan
Tiada mampu menatap silau
Pijar kegaiban menggeletar
Di dua kota suci itu, ternyata
Pohon-pohon filsafat
Masih tumbuh bermekaran
Tapi, daun-daunnya berubah
Menjadi airmata
Menangisi masa lalu sia-sia
Buah-buahnya berubah
Menjadi airmata
Untuk tiap resah tak terjawab
Kesadaran filsafat
Di dua kota suci itu.
Telah meruntuhkan
Airmata fana
Maka, filsafat masih akan
Mengalirkan kebeningan jiwa
Mengapai jalan-jalan makrifat
Meraih jalan-jalan hakikat
Madinah, 10 Mei 2011
Minggu, 15 Mei 2011
Puisi "KOTA SUCI" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
KOTA SUCI
Seorang lelaki bercerita tentang Kegagumannya terhadap
Keindahan masjid di sebuah kota suci
Di pelataran depan masjid itu
Payung-payung raksasa
Mekar saat siang tiba
Kuncup saat malam tiba
Masjid itu sungguh memesona.
Seorang penyair
Saksama mencerna cerita itu
Namun tiba-tiba, sukma mereka
Sama-sama tergetar pilu
Kepada sang penyair,
Lelaki itu berkata:
"Dari dulu aku mengagumi keindahan
Masjid kota suci ini.
Tapi, begitu kuresapi keindahannya
Hatiku kian teriris perih
Sebab, di kota suci ini semestinya
Kugenggam jemari kekasihku
Lalu mata kami saling menatap penuh cinta
Sambil berceloteh tentang
Tahun-tahun mendatang kembali
Dan kembali lagi ke kota suci ini"
Mendengar kisah itu
Sang penyair menundukkan kepala
Matanya menatap tajam pelataran pualam
Di mana ribuan pasang kaki berlalu lalang
Di kota suci itu, pena sang penyair lalu
Terguncang menggeletar
Siap kembali menorehkan puisi tentang
Kasih tak sampai dua orang manusia
Ooh ......
Madinah, 10 Mei 2011
Anwari WMK
KOTA SUCI
Seorang lelaki bercerita tentang Kegagumannya terhadap
Keindahan masjid di sebuah kota suci
Di pelataran depan masjid itu
Payung-payung raksasa
Mekar saat siang tiba
Kuncup saat malam tiba
Masjid itu sungguh memesona.
Seorang penyair
Saksama mencerna cerita itu
Namun tiba-tiba, sukma mereka
Sama-sama tergetar pilu
Kepada sang penyair,
Lelaki itu berkata:
"Dari dulu aku mengagumi keindahan
Masjid kota suci ini.
Tapi, begitu kuresapi keindahannya
Hatiku kian teriris perih
Sebab, di kota suci ini semestinya
Kugenggam jemari kekasihku
Lalu mata kami saling menatap penuh cinta
Sambil berceloteh tentang
Tahun-tahun mendatang kembali
Dan kembali lagi ke kota suci ini"
Mendengar kisah itu
Sang penyair menundukkan kepala
Matanya menatap tajam pelataran pualam
Di mana ribuan pasang kaki berlalu lalang
Di kota suci itu, pena sang penyair lalu
Terguncang menggeletar
Siap kembali menorehkan puisi tentang
Kasih tak sampai dua orang manusia
Ooh ......
Madinah, 10 Mei 2011
Sabtu, 14 Mei 2011
Puisi "PUALAM" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
PUALAM
Mahluk debu tanah
Terseret siklus
Dari profan ke profan
Menampik setiap rindu
Bergemuruh dari sakral ke sakral
Manusia adalah
Mahluk debu tanah itu
Tatkala sakralitas didamba
Profanitas justru terengkuh
Semestinya hadir tanpa akhir
Ruang waktu sakralitas
Agar jiwa manusia sepenuhnya
Seindah pualam
Makkah, 8 Mei 2011
Anwari WMK
PUALAM
Mahluk debu tanah
Terseret siklus
Dari profan ke profan
Menampik setiap rindu
Bergemuruh dari sakral ke sakral
Manusia adalah
Mahluk debu tanah itu
Tatkala sakralitas didamba
Profanitas justru terengkuh
Semestinya hadir tanpa akhir
Ruang waktu sakralitas
Agar jiwa manusia sepenuhnya
Seindah pualam
Makkah, 8 Mei 2011
Puisi "INGATAN" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
INGATAN
Segumpal ingatan
Ihwal masa nan lampau
Menyeret manusia
Di masa kini
Merajut kekerabatan
Bersama manusia lain
Kekerabatan berevolusi
Menjadi bangsa.
Ingatan lalu,
Jembatan penghubung
Antara lampau dan kini
Di sepanjang musim
Bangsa lantas dipuja
Sebagai keagungan
Dan bangsa lain pun
Diperlakukan sebagai
Kawan atau lawan
Pada bangsa
Tumbuh benih cinta
Tumbuh benih permusuhan
Kata burung gagak:
"Pilih yang mana?
Cinta atau permusuhan?"
Tak setiap manusia
Mampu memberi jawab
Dengan kebeningan nurani
2011
Anwari WMK
INGATAN
Segumpal ingatan
Ihwal masa nan lampau
Menyeret manusia
Di masa kini
Merajut kekerabatan
Bersama manusia lain
Kekerabatan berevolusi
Menjadi bangsa.
Ingatan lalu,
Jembatan penghubung
Antara lampau dan kini
Di sepanjang musim
Bangsa lantas dipuja
Sebagai keagungan
Dan bangsa lain pun
Diperlakukan sebagai
Kawan atau lawan
Pada bangsa
Tumbuh benih cinta
Tumbuh benih permusuhan
Kata burung gagak:
"Pilih yang mana?
Cinta atau permusuhan?"
Tak setiap manusia
Mampu memberi jawab
Dengan kebeningan nurani
2011
Puisi "BURUNG-BURUNG DI ATAS KABAH" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
BURUNG-BURUNG DI ATAS KABAH
Di sini waktu berhenti mengalir, burung-burung berterbangan di atas Ka'bah mengiringi ribuan manusia bertawaf sepanjang saat. Burung-burung itu senandungkan keindahan lagu tentang manusia yang musti sampai di tapal batas pencarian: menemukan jalan pulang kembali kepada dirinya yang hakiki.
Segenap tapal batas waktu lalu meleleh. Siang meleleh. Malam meleleh. Di Ka'bah itu manusia mengalir, berputar, sepanjang waktu bersama burung-burung yang terus bersiul, tiada henti. Waktu sungguh telah meleleh.
Tapi tiba-tiba seekor jangkrik merayap di pinggiran jauh pelataran Ka'bah sejurus arah Multazam, berjingkrak di antara hamparan sujud yang sempit. Dua orang jamaah mengusir jangkrik itu agar tak mengganggu sujud yang hendak dihamparkan segera.
Jangkrik itu lalu berlalu dari pandangan manusia. Tapi ia segera ceritakan kepada burung-burung yang tiada lelah terbang di atas Ka'bah. Berkatalah jangkrik itu: "Tak setiap manusia yang lebur dalam tawaf menemukan jalan dalam dirinya, jalan pulang mencapai kesejatiannya yang hakiki."
Dan burung-burung takzim mendengar cerita jangkrik itu.
Mekkah, 8 Mei 2011
Anwari WMK
BURUNG-BURUNG DI ATAS KABAH
Di sini waktu berhenti mengalir, burung-burung berterbangan di atas Ka'bah mengiringi ribuan manusia bertawaf sepanjang saat. Burung-burung itu senandungkan keindahan lagu tentang manusia yang musti sampai di tapal batas pencarian: menemukan jalan pulang kembali kepada dirinya yang hakiki.
Segenap tapal batas waktu lalu meleleh. Siang meleleh. Malam meleleh. Di Ka'bah itu manusia mengalir, berputar, sepanjang waktu bersama burung-burung yang terus bersiul, tiada henti. Waktu sungguh telah meleleh.
Tapi tiba-tiba seekor jangkrik merayap di pinggiran jauh pelataran Ka'bah sejurus arah Multazam, berjingkrak di antara hamparan sujud yang sempit. Dua orang jamaah mengusir jangkrik itu agar tak mengganggu sujud yang hendak dihamparkan segera.
Jangkrik itu lalu berlalu dari pandangan manusia. Tapi ia segera ceritakan kepada burung-burung yang tiada lelah terbang di atas Ka'bah. Berkatalah jangkrik itu: "Tak setiap manusia yang lebur dalam tawaf menemukan jalan dalam dirinya, jalan pulang mencapai kesejatiannya yang hakiki."
Dan burung-burung takzim mendengar cerita jangkrik itu.
Mekkah, 8 Mei 2011
Puisi "HUJAN BERSYAIR" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
HUJAN BERSYAIR
Hujan tiba-tiba bersyair,
saat tetes demi tetes
jatuh di bumi,
di atas batu,
di atap-atap rumah,
di dedunan pohon.
Hanya saja,
kita manusia
tak pernah tahu,
apa sesungguhnya
judul syair-syair
air hujan itu.
Kata kawanan
ikan koi:
"Tak perlu judul itu,
Sebab, yang penting
Hujan saja bersyair
Bersyair."
Mei 2011
Anwari WMK
HUJAN BERSYAIR
Hujan tiba-tiba bersyair,
saat tetes demi tetes
jatuh di bumi,
di atas batu,
di atap-atap rumah,
di dedunan pohon.
Hanya saja,
kita manusia
tak pernah tahu,
apa sesungguhnya
judul syair-syair
air hujan itu.
Kata kawanan
ikan koi:
"Tak perlu judul itu,
Sebab, yang penting
Hujan saja bersyair
Bersyair."
Mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)