Puisi Karya
Anwari WMK
MULTAZAM
Di Multasam itu
Kubawakan resahku padaMu
Bertahun lamanya
Kubawakan pohon-pohon filsafat
KepadaMu
Engkau tersenyum
Bertahun lamanya
Kubawakan bercawan-cawan ilmu
KepadaMu
Engkau pun tersenyum
Bertahun lamanya
Kubawakan bertangkai-tangkai puisi
KepadaMu
Engkau juga tersenyum
Sekarang di Multazam
Kubawakan resahku padaMu
Negeri tempat aku dilahirkan
Tercabik kuasa angkara murka
Sudah terlalu lama
Kuasa angkara murka itu
Bercokol melumat
Bentangan langit kekuasaan
Hingga tak ada lagi matahari cinta
Kini, di Multazam
Segalanya kuadukan padaMu
Makkah, 7 Mei 2011
Catatan:
Multazam: wilayah antara Hjar Aswad dan pintu Ka'bah.
Jumat, 13 Mei 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Puisi "CELURIT MERAH" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
CELURIT MERAH
Langit robek terbelah
Oleh celurit merah
Pulau di mana
Celurit itu dilahirkan
Kini hatinya
Resah gelisah
Sebab minyak yang
Meringkuk
Di bawah tanah pulau itu
Diperebutkan oleh
Kuasa angkara murka
Langit robek terbelah
Oleh celurit merah
2011
Anwari WMK
CELURIT MERAH
Langit robek terbelah
Oleh celurit merah
Pulau di mana
Celurit itu dilahirkan
Kini hatinya
Resah gelisah
Sebab minyak yang
Meringkuk
Di bawah tanah pulau itu
Diperebutkan oleh
Kuasa angkara murka
Langit robek terbelah
Oleh celurit merah
2011
Rabu, 04 Mei 2011
Puisi "TANGIS MAWAR MERAH" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
TANGIS MAWAR MERAH
Setelah dua senja berlalu
Setangkai mawar merah
Menangis sedih
Satu per satu
Kelopaknya berjatuhan
Sebelum dua senja datang
Mawar merah itu
Dalam genggaman tangan
Seorang lelaki
Melintasi pematang sawah
Hasrat setinggi pucuk gunung
Lelaki itu hendak persembahkan
Mawar merah kepada
Perempuan bergaun kuning
Ternyata,
Perempuan itu berwajah bening
Hatinya seindah pualam
Lelaki itu gagap
Tiada kuasa menatap pesona
Urung serahkan mawar merah
Maka,
Setangkai mawah merah
Menangis sedih
Satu per satu
Kelopaknya berjatuhan
Mei 2011
Anwari WMK
TANGIS MAWAR MERAH
Setelah dua senja berlalu
Setangkai mawar merah
Menangis sedih
Satu per satu
Kelopaknya berjatuhan
Sebelum dua senja datang
Mawar merah itu
Dalam genggaman tangan
Seorang lelaki
Melintasi pematang sawah
Hasrat setinggi pucuk gunung
Lelaki itu hendak persembahkan
Mawar merah kepada
Perempuan bergaun kuning
Ternyata,
Perempuan itu berwajah bening
Hatinya seindah pualam
Lelaki itu gagap
Tiada kuasa menatap pesona
Urung serahkan mawar merah
Maka,
Setangkai mawah merah
Menangis sedih
Satu per satu
Kelopaknya berjatuhan
Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
Puisi "PARTIKEL" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
PARTIKEL
Anak muda itu datang
Di forum seorang profesor
Demi mencerap uraian tentang
Manusia di jagad semesta raya
"Manusia hanya partikel kecil"
Begitu ucap sang profesor
"Di jagad semesta raya
Luas tiada bertepi
Manusia hanyalah setitik makna
Kecil. Kecil. Dan sangat kecil
Tak lebih dan tak kurang"
Sambil berjalan pulang
Anak muda itu merasa
Telah merengkuh pencerahan
Tapi saat membaca kitab suci
Pada malam kian menua
Anak muda itu sungguh
Terperangah sangat
Kata kitab suci:
"Jiwa setiap manusia luas
Melampaui luas alam semesta
Hanya dengan memahami jiwanya
Manusia mampu temukan
Kelapangan diri tak berhingga"
Sejak malam itu, anak muda itu
Belajar memahami jiwanya
Hari-hari berlalu bersama renungan
Ihwal diri dalam jagad semesta raya
Berbulan kemudian
Ia sampai di tapal batas makrifat
Alam semesta ini hanyalah
Partikel kecil
Dibandingkan jiwanya yang
Amat sangat luas.
Sejak saat itu
Ia anak muda berlapang dada
Tantangan hidup, ia hadapi dengan
Kerja keras dan senyuman
Oh betapa indahnya hidup
Oh ......
2011
Anwari WMK
PARTIKEL
Anak muda itu datang
Di forum seorang profesor
Demi mencerap uraian tentang
Manusia di jagad semesta raya
"Manusia hanya partikel kecil"
Begitu ucap sang profesor
"Di jagad semesta raya
Luas tiada bertepi
Manusia hanyalah setitik makna
Kecil. Kecil. Dan sangat kecil
Tak lebih dan tak kurang"
Sambil berjalan pulang
Anak muda itu merasa
Telah merengkuh pencerahan
Tapi saat membaca kitab suci
Pada malam kian menua
Anak muda itu sungguh
Terperangah sangat
Kata kitab suci:
"Jiwa setiap manusia luas
Melampaui luas alam semesta
Hanya dengan memahami jiwanya
Manusia mampu temukan
Kelapangan diri tak berhingga"
Sejak malam itu, anak muda itu
Belajar memahami jiwanya
Hari-hari berlalu bersama renungan
Ihwal diri dalam jagad semesta raya
Berbulan kemudian
Ia sampai di tapal batas makrifat
Alam semesta ini hanyalah
Partikel kecil
Dibandingkan jiwanya yang
Amat sangat luas.
Sejak saat itu
Ia anak muda berlapang dada
Tantangan hidup, ia hadapi dengan
Kerja keras dan senyuman
Oh betapa indahnya hidup
Oh ......
2011
Puisi "RIANG GEMETAR" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
RIANG GEMETAR
Seorang lelaki berjalan terhuyung-huyung
Dalam dirinya ada riang yang gemetar
Otak dan hatinya mengobarkan peperangan
Bertempur saling mematikan
Otaknya berkata lantang:
"Lupakan Tuhan sekarang dan selamanya
Tinggalkan Tuhan di belakang haluan
Tanggalkan segenap omong kosong
Tentang Tuhan"
Hati lelaki itu pun menjawab:
"Pada jarak waktu apa pun
Matahari, bintang dan rembulan
Menyingkap keberadaan manusia
Manusia takkan mampu
Sembunyi dari, sorot mata Tuhan
Telinga manusia terus mendengar
Pekabaran-pekabaran Tuhan
Seperti mendengar suara-suara
Terompah kaki"
Tiba-tiba udara beraroma wangi
Udara menari-nari menyambut Tuhan
Tapi lelaki itu masih terhuyung-huyung
Dalam dirinya, ada riang yang gemetar
2011
Anwari WMK
RIANG GEMETAR
Seorang lelaki berjalan terhuyung-huyung
Dalam dirinya ada riang yang gemetar
Otak dan hatinya mengobarkan peperangan
Bertempur saling mematikan
Otaknya berkata lantang:
"Lupakan Tuhan sekarang dan selamanya
Tinggalkan Tuhan di belakang haluan
Tanggalkan segenap omong kosong
Tentang Tuhan"
Hati lelaki itu pun menjawab:
"Pada jarak waktu apa pun
Matahari, bintang dan rembulan
Menyingkap keberadaan manusia
Manusia takkan mampu
Sembunyi dari, sorot mata Tuhan
Telinga manusia terus mendengar
Pekabaran-pekabaran Tuhan
Seperti mendengar suara-suara
Terompah kaki"
Tiba-tiba udara beraroma wangi
Udara menari-nari menyambut Tuhan
Tapi lelaki itu masih terhuyung-huyung
Dalam dirinya, ada riang yang gemetar
2011
Minggu, 01 Mei 2011
Puisi "PEREMPUAN BERKAWAN ANGIN" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
PEREMPUAN BERKAWAN ANGIN
hingga senja bergegas temaram, angin terbang patah-patah.
angin gontai kakinya, tak mampu menaiki tanga-tangga bangunan gedung.
sementara pada leher perempuan itu, masih jua melingkar-lingkar lagu keabadian rindu.
saat lagu itu disenandungkan, angin kian terpatah-patah.
kian gontai.
wahai perempuan.
angin terpesona kagum kepadamu, kehabisan kata-kata melukiskan keagunganmu.
engkau serupa kembang di taman nirvana, aroma dan keindahanmu tak terlukiskan kata-kata.
angin pun belajar mencerna makrifat, agar sepenuhnya mampu memahami dirimu seutuhnya.
wahai perempuan.
kemarin malam angin bercerita kepada bintang gemintang, tentang dirimu yang tak pernah kering semburatkan ilham dan gagasan.
berkata kepada angin, bintang gemintang ingin berkenalan denganmu.
kini, angin berbisik ke berbagai pelosok galaksi, membawa pekabaran tentang dirimu, hingga seorang penyair di galaksi andromeda tiada henti menyulam kalimat, tiada lelah merajut kata-kata.
untukmu.
untuk keagunganmu.
2011
Anwari WMK
PEREMPUAN BERKAWAN ANGIN
hingga senja bergegas temaram, angin terbang patah-patah.
angin gontai kakinya, tak mampu menaiki tanga-tangga bangunan gedung.
sementara pada leher perempuan itu, masih jua melingkar-lingkar lagu keabadian rindu.
saat lagu itu disenandungkan, angin kian terpatah-patah.
kian gontai.
wahai perempuan.
angin terpesona kagum kepadamu, kehabisan kata-kata melukiskan keagunganmu.
engkau serupa kembang di taman nirvana, aroma dan keindahanmu tak terlukiskan kata-kata.
angin pun belajar mencerna makrifat, agar sepenuhnya mampu memahami dirimu seutuhnya.
wahai perempuan.
kemarin malam angin bercerita kepada bintang gemintang, tentang dirimu yang tak pernah kering semburatkan ilham dan gagasan.
berkata kepada angin, bintang gemintang ingin berkenalan denganmu.
kini, angin berbisik ke berbagai pelosok galaksi, membawa pekabaran tentang dirimu, hingga seorang penyair di galaksi andromeda tiada henti menyulam kalimat, tiada lelah merajut kata-kata.
untukmu.
untuk keagunganmu.
2011
Puisi "HAYAM WURUK" | Karya Anwari WMK
Puisi Karya
Anwari WMK
HAYAM WURUK
Raja itu berdiri
Di atas gundukan tanah
Rakyat mengelu-elukannya
Hingga gemuruh bergema
Menggetarkan dedaunan pohon
Merengkuh nikmat kemakmuran
Rakyat lalu sampai pada
Titik kesimpulan
Bahwa raja itu titisan dewata
Sang raja tersenyum
Hati nuraninya lalu berkata:
"Wahai rakyat
Aku bukan titisan dewata
Kalian hidup berkemakmuran
Lantaran memang tugasku
Menghapus kesengsaraan
Majapahit lalu
Sebenderang matahari
Seindah rembulan"
Sesaat kemudian
Sang raja lambaikan tangan
Dan rakyat kian gemuruh
Menyambutnya
Kini, 700 tahun kemudian
Nyanyian embun pagi
Menggugat tanya
Kemakmuran Nusantara
Mengapa raja semacam itu
Tak pernah datang lagi
Mengapa?
2011
Catatan:
Puisi ini diinspirasi oleh "Kakawin Nagara Krtagama" karya Mpu Prapanca, terutama pada bagian "Wirama 1, Jagaddhita".
Anwari WMK
HAYAM WURUK
Raja itu berdiri
Di atas gundukan tanah
Rakyat mengelu-elukannya
Hingga gemuruh bergema
Menggetarkan dedaunan pohon
Merengkuh nikmat kemakmuran
Rakyat lalu sampai pada
Titik kesimpulan
Bahwa raja itu titisan dewata
Sang raja tersenyum
Hati nuraninya lalu berkata:
"Wahai rakyat
Aku bukan titisan dewata
Kalian hidup berkemakmuran
Lantaran memang tugasku
Menghapus kesengsaraan
Majapahit lalu
Sebenderang matahari
Seindah rembulan"
Sesaat kemudian
Sang raja lambaikan tangan
Dan rakyat kian gemuruh
Menyambutnya
Kini, 700 tahun kemudian
Nyanyian embun pagi
Menggugat tanya
Kemakmuran Nusantara
Mengapa raja semacam itu
Tak pernah datang lagi
Mengapa?
2011
Catatan:
Puisi ini diinspirasi oleh "Kakawin Nagara Krtagama" karya Mpu Prapanca, terutama pada bagian "Wirama 1, Jagaddhita".
Langganan:
Postingan (Atom)







